Bismillahirrahmanirrahim | Members area : Register | Sign in

Jam-Q

Archives

Daftar Blog-Q

Flag Counter

PTK Bahasa Arab 3

Rabu, 26 Januari 2011

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Proses pembelajaran bidang studi Bahasa Arab di MI memiliki fungsi yang penting dalam memberikan pondasi yang kuat dan dalam bagi siswa guna membentuk suatu konstruksi individu yang berakhlaq al-karimah di masa-masa mendatang (Ma’arif, 2003 : 12). Di masa yang akan datang, suatu konstruksi individu yang berakhlaq al-karimah (mempunyai budi pekerti yang luhur) berperan besar dalam proses pembangunan bangsa dan memberikan kontribusi yang besar bagi masyarakat di mana pun dirinya akan berdomisili. Proses pembelajaran bidang studi Bahasa Arab bersandar pada kurikulum pembelajaran dan pengajaran Agama Islam yang dikeluarkan oleh pemerintah melalui Dinas Pendidikan dan Lingkungan oleh Departemen Agama.

PTK Bahasa Arab 2

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Proses pembelajaran bidang studi Bahasa Arab di MI memiliki fungsi yang penting dalam memberikan pondasi yang kuat dan dalam bagi siswa guna membentuk suatu konstruksi individu yang berakhlaq al-karimah di masa-masa mendatang (Ma’arif, 2003 : 12). Di masa yang akan datang, suatu konstruksi individu yang berakhlaq al-karimah (mempunyai budi pekerti yang luhur) berperan besar dalam proses pembangunan bangsa dan memberikan kontribusi yang besar bagi masyarakat di mana pun dirinya akan berdomisili. Proses pembelajaran bidang studi Bahasa Arab bersandar pada kurikulum pembelajaran dan pengajaran Agama Islam yang dikeluarkan oleh pemerintah melalui Dinas Pendidikan dan Lingkungan oleh Departemen Agama.
Proses pembelajaran bidang studi bahasa Arab adalah tidak bisa dilepaskan dari Kehidupan Agama Islam itu sendiri yang memberikan ajaran bagi umat manusia pemeluknya untuk mengedepankan dan mengutamakan kegiatan belajar. Dalam kepercayaan agama Islam,

PTK Bahasa Arab 1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional siswa dan merupakan kunci penentu menuju keberhasilan dalam pembelajaran semua bidang studi. Mengingat fungsi bahasa yang bukan saja sebagai suatu bidang kajian. Bahasa diharapkan membantu siswa mengenali dirinya, dan budaya orang lain, mengemukakan gagasan dan perasaan berpartisipasi dalam masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut, membuat keputusan yang bertanggungjawab pada tingkat pribadi dan sosial, menemukan serta menggunakan kemampuan-kemampuan analitis dan imajinatif yang ada dalam dirinya.
Pada era globalisasi sekarang ini bahasa arab sangat perlu dikuasai dengan berbagai keistimewaan, tentunya tidak hanya sebatas bahasa ibu dan bahasa nasional saja. Tetapi juga bahasa asing, agar dapat berkiprah dalam lingkup yang lebih luas yaitu regional, bahkan internasional.

PTK Matematik

BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang Masalah
Mata pelajaran matemetika diberikan kepada peserta didik untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berfikir logis, analitis, sistematis, kritis dan kreatif serta kemampuan bekerjasama. Kompetensi tersebut diperlukan agar peserta didik dapat memiliki kemampuan memperoleh, mengelola dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti dan kompetitif.
Salah satu tujuan diberikannya pelajaran matematika pada siswa SMP adalah agar siswa memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian dan minat dalam mempelajari matematika serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.
Pendekatan pemecahan masalah merupakan fokus dalam pembelajaran matematika yang mencakup masalah tertutup dengan solusi tunggal dan masalah dengan berbagai cara penyelesaian. Untuk meningkatkan kemampuan memecahkan masalah perlu dikembangkan keterampilan memahami masala, membuat model matematika, menyelesaikan masalah, dan menafsirkan solusinya.

Media Gambar

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Proses pendidikan di sekolah dasar, dalam pembelajarannya mempunyai fungsi dan pengaruh yang sangat besar dalam membangun konstruksi kognitif, afektif, dan psikomotorik siswa. Semua kegiatan pembelajaran di jenjang pendidikan sekolah dasar hendaknya dikelola dengan baik, berdaya guna, dan berhasil guna dengan bimbingan yang cermat, pendekatan yang tepat, dan pemahaman yang memadai kondisi psikologis siswa di sekolah dasar, yang memang pada dasarnya memerlukan perhatian dan wawasan yang cukup.
Pada pendidikan dasar enam tahun di sekolah dasar secara prinsipil menempatkan banyak elemen yang dipertaruhkan, karena pada jenjang ini merupakan jenjang peletakan pondasi dasar dalam proses pendidikan di jenjang yang lebih tinggi. Pondasi yang kokoh akan membuat proses pembelajaran di jenjang selanjutnya relatif lebih ringan karena tinggal melanjutkan dan meneruskan proses pembelajaran yang telah ada.

PTK Sosiologi 4

BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
Classroom action research (CAR) adalah action research yang dilaksanakan oleh guru di dalam kelas. Action research pada hakikatnya merupakan rangkaian “riset-tindakan-riset-tindakan- …”, yang dilakukan secara siklik, dalam rangka memecahkan masalah, sampai masalah itu terpecahkan. Ada beberapa jenis action research, dua di antaranya adalah individual action research dan collaborative action research (CAR). Jadi CAR bisa berarti dua hal, yaitu classroom action research dan collaborative action research; dua-duanya merujuk pada hal yang sama.
Action research termasuk penelitian kualitatif walaupun data yang dikumpulkan bisa saja bersifat kuantitatif. Action research berbeda dengan penelitian formal, yang bertujuan untuk menguji hipotesis dan membangun teori yang bersifat umum (general). Action research lebih bertujuan untuk memperbaiki kinerja, sifatnya kontekstual dan hasilnya tidak untuk digeneralisasi. Namun demikian hasil action research dapat saja diterapkan oleh orang lain yang mempunyai latar yang mirip dengan yang dimliki peneliti.

PTK Sosiologi 3

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah
Keberhasilan belajar siswa dalam bentuk prestasi belajar yang ditunjukkan oleh nilai rapor merupakan salah satu tolok ukur keberhasilan kegiatan belajar mengajar. Belajar merupakan suatu proses yang dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling terkait dan menentukan prestasi belajar itu sendiri, seperti faktor individual (kematangan/pertumbuhan fisik, kecerdasan spiritual, emosional dan intelektual) dan faktor sosial (guru, orang tua/keluarga dan lingkungan serta fasilitas/dukungan).
Tingkat kecerdasan intelektual (Inelegancy Quatiens = IQ) diyakini berpengaruh terhadap keberhasilan belajar siswa. Dalam situasi yang sama, siswa yang memiliki IQ tinggi akan lebih berhasil dibanding siswa dengan IQ lebih rendah.
Aktifitas siswa dalam kegiatan ekstra kurikuler sekolah (Pramuka, Palang Merah Remaja (PMR), Kelompok Ilmiah Remaja (KIR), Seni Drama (Teater), Karate, Sepakbola, Basket, Volly, Pecinta Alam, Kelompok Band/Musik dan sebagainya) membutuhkan waktu dan tenaga yang cukup banyak menyita waktu yang

PTK Sosiologi 2

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Masalah penyalahgunaan narkotika di Indonesia yang sekarang ini dirasakan semakin gawat mulai pada tahun 1969, tidak lama setelah pemerintahan Republik Indonesia membuka pintu lebar-lebar dengan dunia luar yaitu masa era globalisasi. Masalah penyalahgunaan narkotika oleh para remaja pada masa sekarang, pada hakikatnya bukan masalah yang berdiri sendiri, melainkan masalah yang ternyata mempunyai sangkut-paut dengan faktor-faktor lain, yang timbul dalam kehidupan manusia. Itulah sebabnya, masalah ini sering disebut gejala sosial, yang pada akhir-akhir ini menonjol terutama di kota-kota besar. Dengan demikian penyalahgunaan narkotika oleh para remaja merupakan salah satu kenyataan yang perlu mendapatkan perhatian khusus dari semua pihak yang merasa turut bertanggung jawab atas pembinaan dan pendidikan generasi muda. Hal ini bukan saja disebabkan oleh akibat negatif dari perbuatan kenakalan remaja dalam penyalahgunaan narkotika terhadap keluarga dan masyarakat. Sesungguhnya lebih jauh lagi, yaitu bagi pertumbuhan remaja itu sendiri, sebagai generasi bangsa yang akan bertanggung jawab pada masa yang akan datang.

PTK Sosiologi 1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Bimbingan dan konseling merupakan bagian integral dari sekolah yang bertujuan memberikan bantuan kepada siswa baik perorangan maupun kelompok agar menjadi pribadi yang mandiri dan berkembang secara optimal. Apalagi berkaitan dengan lembaga pendidikan yang secara khusus menjurus atau memilih ketrampilan tertentu seperti di Sekolah Menengah Kejuruan dan sekolah lainnya.
Fenomena yang nampak dalam keseharian dimana anggapan masyarakat umum tentang kenakalan siswa/pelajar disebabkan karena ketidakmampuan sekolah yang bersangkutan dalam mendidik dan membimbing siswa, padahal sekolah adalah sebagai salah satu lembaga pendidikan yang bertanggung jawab dalam mengembangkan dan meningkatkan kecerdasan pikiran dan emosional siswa. Idealitas dengan realitas tersebut memang tidak selamanya benar apabila digeneralisasikan pada semua lembaga pendidikan. Tentunya masih banyak lembaga pendidikan yang memiliki nilai plus dan bahkan dijadikan proyek pengembangan.

Prestasi Belajar Siswa

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah
Keberhasilan belajar siswa dalam bentuk prestasi belajar yang ditunjukkan oleh nilai rapor merupakan salah satu tolok ukur keberhasilan kegiatan belajar mengajar. Belajar merupakan suatu proses yang dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling terkait dan menentukan prestasi belajar itu sendiri, seperti faktor individual (kematangan/pertumbuhan fisik, kecerdasan spiritual, emosional dan intelektual) dan faktor sosial (guru, orang tua/keluarga dan lingkungan serta fasilitas/dukungan).
Tingkat kecerdasan intelektual (Inelegancy Quatiens = IQ) diyakini berpengaruh terhadap keberhasilan belajar siswa. Dalam situasi yang sama, siswa yang memiliki IQ tinggi akan lebih berhasil dibanding siswa dengan IQ lebih rendah.
Aktifitas siswa dalam kegiatan ekstra kurikuler sekolah (Pramuka, Palang Merah Remaja (PMR), Kelompok Ilmiah Remaja (KIR), Seni Drama (Teater), Karate, Sepakbola, Basket, Volly, Pecinta Alam, Kelompok

Pengaruh Imam Siswa

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Masalah penyalahgunaan narkotika di Indonesia yang sekarang ini dirasakan semakin gawat mulai pada tahun 1969, tidak lama setelah pemerintahan Republik Indonesia membuka pintu lebar-lebar dengan dunia luar yaitu masa era globalisasi. Masalah penyalahgunaan narkotika oleh para remaja pada masa sekarang, pada hakikatnya bukan masalah yang berdiri sendiri, melainkan masalah yang ternyata mempunyai sangkut-paut dengan faktor-faktor lain, yang timbul dalam kehidupan manusia. Itulah sebabnya, masalah ini sering disebut gejala sosial, yang pada akhir-akhir ini menonjol terutama di kota-kota besar. Dengan demikian penyalahgunaan narkotika oleh para remaja merupakan salah satu kenyataan yang perlu mendapatkan perhatian khusus dari semua pihak yang merasa turut bertanggung jawab atas pembinaan dan pendidikan generasi muda. Hal ini bukan saja disebabkan oleh akibat negatif dari perbuatan kenakalan remaja dalam penyalahgunaan narkotika terhadap keluarga dan masyarakat. Sesungguhnya lebih jauh lagi

Manajemen Pendidikan

BAB I
PENDAHULUAN


A. Analisa Situasi Saat Ini
Dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Bab II pasal 3 menyebutkan bahwa Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab.
Walaupun pemerintah telah menerapkan kebijakan-kebijakan, sampai sekarang masih dirasakan bahwa masalah yang dihadapi adalah rendahnya mutu pendidikan pada setiap jenjang pendidikan, khususnya dalam bidang pendidikan dasar dan menengah.

Siswa Trampil

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Pendidikan memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Pendidikan dapat mempengaruhi perkembangan manusia dalam seluruh aspek kepribadian dan kehidupannya.
Pendidikan memiliki kekuatan (pengaruh) yang dinamis dalam kehidupan manusia di masa depan. Pendidikan dapat mengembangkan berbagai potensi yang dimiliki secara optimal, yaitu pengembangan potensi individu yang setinggi-tingginya dalam aspek fisik, intelektual, emosional, sosial dan spiritual, sesuai dengan tahap perkembangan serta karakteristik lingkungan fisik dan lingkungan sosial budaya dimana dia hidup.
Permasalahannya, apakah yang dimaksud dengan pendidikan? Pendidikan merupakan suatu fenomena manusia yang sangat kompleks. Karena sifatnya yang kompleks itu maka pendidikan dapat dilihat dan dijelaskan dari berbagai sudut pandang, seperti dari sudut pandang psikologis, sosialogi dan antropologi,

PTK Matematika dan Al quran

BAB I

MATEMATIKA DAN AL-QUR’AN

Pembahasan al-Qur’an dengan pendekatan paradigma angka atau numerik, masih sangat langka bila dibandingkan dengan paradigma verbal. Pendekatan verbal di sini dimaksudkan sebagai keseluruhan kajian yang berangkat dari uraian konsep yang dituliskan dengan menggunakan huruf. Secara umum, istilah verbal atau numerik tidak dikenal lantaran memang tidak dinyatakan dengan istilah tersebut dalam setiap kajian. Namun penyebutan keduanya hanya ditujukan untuk memudahkan pengertian tentang klasifikasi yang didasarkan pada notasi simbol yang diuraikan lewat huruf dan angka. Kajian yang dikelompokkan pada paradigma verbal lebih dikenal dalam berbagai pendekatan disiplin ilmu yang sudah ada, seperti sejarah, hukum, bahasa, dan lain sebagainya. Sedangkan paradigma numerik sendiri masih sangat umum, belum membentuk sebuah pendekatan tersendiri.

Konsep Pendidikan

MEMBANGUN KONSEP PENDIDIKAN YANG TERKAIT DENGAN AL-QURAN (MEDIA PEMBELAJARAN)

Kemauan dan rasa ingin tahu yang kuat adalah faktor penting dalam proses transformasi ilmiah. Sementara transformasi sebuah nilai membutuhkan variasi agar tidak menimbulkan kejenuhan pada peserta didik sebagai obyek pendidikan. Selain itu, untuk memudahkan proses transformasi nilai kepada peserta didik, diperlukan media pembelajaran, salah satu cara yang dapat digunakan untuk membangkitkan emosional peserta didik adalah melalui media cerita atau qishshah.
Al-Qishshah dalam al-quran digunakan oleh Allah untuk menyampaikan keteladanan generasi terdahulu untuk diikuti oleh generasi yang akan datang, seperti firman Allah dalam QS. Al-Kahfi: 13:

Daftar Isi

Popular Posts

Visitors

Followers

Joint