PTK Matematika SD
Minggu, 24 Oktober 2010
BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang Masalah
Peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakan prasyarat mutlak untuk mencapai tujuan pembangunan. Salah satu wahana untuk meningkatkan kualitas SDM tersebut adalah pendidikan, sehingga kualitas pendidikan harus senantiasa ditingkatkan. Kualitas kehidupan bangsa sangat ditentukan oleh faktor pendidikan. Peran pendidikan sangat penting untuk menciptakan kehidupan yang cerdas, damai, terbuka, dan demokratis. Oleh karena itu, pembaharuan pendidikan harus selalu dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional (Nurhadi & Senduk, 2003).
Pada era global seperti saat ini, Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi unsur penentu dalam kelangsungan hidup manusia. Untuk menghadapi tantangan pada masa mendatang, pendidikan nasional dilaksanakan dengan tujuan meningkatkan kualitas manusia Indonesia seutuhnya. Upaya meningkatkan kualitas manusia Indonesia seutuhnya tidak hanya menjadi tugas dan tanggung jawab para pakar, birokrat dan politisi saja, melainkan juga menjadi tugas dan tanggung jawab guru dan semua orang yang berkecimpung di bidang pendidikan dan pengajaran. Oleh karena itu, sebagai praktisi dan pemerhati bidang pendidikan dan pengajaran, perlu memikirkan dan mengambil langkah guna ikut berkiprah dalam meningkatkan kualitas manusia Indonesia seutuhnya, yaitu dengan meningkatkan mutu pendidikan (Soekamto, 2001). Untuk meningkatkan mutu pendidikan diperlukan pembaharuan¬-pembaharuan strategi dalam pembelajaran.
Pembaharuan pendidikan tersebut tidak dapat dilakukan oleh satu komponen saja, melainkan harus ada kerjasama dengan komponen lain. Lewin (1948) mengatakan bahwa perubahan sosial sangat tergantung pada komitmen dan pemahaman anggota masyarakat yang terlibat dalam proses perubahan itu. Selanjutnya Elliot (1977) mengemukakan bahwa perlunya kolaborasi dalam melakukan perubahan-perubahan yang bersifat mendasar melalui proses penelitian. Dari beberapa pendapat tersebut menunjukan bahwa meningkatkan kualitas pendidikan itu merupakan tanggung jawab bersama antara guru, siswa, masyarakat, dan seluruh komponen pendidikan.
Untuk melakukan perubahan dalam meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan guru sangat berperan, sebab guru adalah orang kedua setelah orang tua yang bertugas sebagai pentransfer ilmu pengetahuan kepada anak. Untuk itu metode yang dilakukan guru sangat tergantung dari kreatifitas guru itu sendiri dalam menyampaikan isi materi kepada anak didik. Fenomena-fenomena tersebut menjadikan tantangan bagi peneliti untuk dapat melakukan suatu perubahan dalam proses pembelajaran agar dapat menghasilkan suatu prestasi belajar yang optimal. Perubahan proses pembelajaran tersebut dengan menawarkan suatu strategi pembelajaran inquiry sebagai upaya meningkatkan prestasi belajar siswa Sekolah Dasar.
Inquiry merupakan salah satu komponen dari penerapan pendekatan CTL (Contextual Teaching and Learning), yang berarti menemukan. Menurut Nurhadi (2002) menemukan merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis CTL (Contextual Teaching And Learning). Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri.
Strategi pembelajaran kurang melibatkan siswa akan menurunkan minat siswa, sehingga prestasi belajarnyapun akan mengalami penurunan. Strategi pembelajaran yang lebih menekankan pada aktivitas siswa merupakan metode belajar mengajar yang mengutamakan peran siswa aktif, baik fisik, mental, maupun sosial.
Berdasarkan gejala yang ada, peneliti akan mendeskripsikan suatu upaya peningkatan prestasi belajar dengan strategi pembelajaran inquiry di Sekolah Dasar Negeri Jatirejo Kecamatan Diwek Kabupaten Jombang pada siswa kelas VI mata pelajaran Matematika pada pokok bahasan Bangun Datar.
Apakah dengan strategi pembelajaran inquiry (menemukan) dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas VI Sekolah Dasar Negeri Jatirejo Kecamatan Diwek Kabupaten Jombang dalam belajar mata pelajaran Matematika?
Suatu tantangan proses pencapaian tujuan pembelajaran di Sekolah Dasar di era global saat ini.
I.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan pada latar belakang masalah tersebut dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:
“Apakah Penerapan Strategi Pembelajaran Inquiry dapat Meningkatkan Prestasi Belajar Mata Pelajaran Matematika pada Siswa Kelas VI Semester II Sekolah Dasar Negeri Jatirejo Kecamatan Diwek Kabupaten Jombang?”.
I.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan pada rumusan masalah tersebut dapat dirumuskan tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui dan mendeskripsikan penerapan strategi pembelajaran inquiry dalam meningkatkan prestasi belajar mata pelajaran Matematika pada siswa kelas VI semester II Sekolah Dasar Negeri Jatirejo Kecamatan Diwek Kabupaten Jombang.
I.4 Manfaat Penelitian
Berdasarkan tujuan penelitian, secara umum penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan temuan-temuan mengenai strategi pembelajaran inquiry mata pelajaran Matematika di Sekolah Dasar Negeri Jatirejo Kecamatan Diwek Kabupaten Jombang. Secara khusus diharapkan penelitian ini bermanfaat bagi :
1. Peneliti
Untuk menambah wawasan dan pengetahuan dalam meningkatkan kualitas pendidikan mata pelajaran Matematika di Sekolah Dasar, khususnya di Sekolah Dasar Negeri Jatirejo Kecamatan Diwek Kabupaten Jombang dengan strategi pembelajaran inquiry pada pokok bahasan Bangun Datar.
2. Lembaga sekolah
Memberikan bahan masukan dalam rangka pengembangan kurikulum sekolah agar tidak terpaku dengan cara-cara konvensional yang mapan, namun perlu disesuaikan dengan perubahan atau inovasi penyelenggaraan proses pembelajaran yang disesuaikan dengan tuntutan perkembangan zaman.
3. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kecamatan Diwek
Sebagai masukan dalam pengambilan kebijakan pada proses pelaksanaan pembelajaran agar mengikuti, memperhatikan, dan menerapkan hasil yang diperoleh dari penelitian ini, sehingga kelemahan pelaksanaan pembelajaran di lapangan dapat diperbaiki sesuai dengan saran dan rekomendasi dari hasil-hasil penelitian tindakan kelas.
4. Dunia pendidikan
Untuk memberikan kontribusi dalam memperkaya teori-teori yang ada pada bidang pendidikan, sehingga dapat digunakan sebagai bahan acuan untuk melaksanakan pembelajaran inquiry.
I.5 Hipotesis Tindakan
Berdasarkan latar belakang penelitian dan fenomena yang terjadi di lapangan maka hipotesis tindakan dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: Pelaksanaan strategi pembelajaran inquiry dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas VI semester II Sekolah Dasar Negeri Jatirejo Kecamatan Diwek Kabupaten Jombang pada mata pelajaran Matematika pada bahasan Bangun Datar.
I.6 Definisi Operasional
Beberapa definisi yang harus ditegaskan dalam penelitian ini, agar dalam pembahasan hasil penelitian akan mengarah pada uraian yang lebih spesifik sesuai dengan ruang lingkup penelitian, antara lain:
1. Inquiry
Merupakan salah satu komponen dari penerapan pendekatan CTL (Contextual Teaching and Learning), yang berarti menemukan. Menurut Nurhadi (2002) menemukan merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis CTL (Contextual Teaching And Learning). Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri.
2. Prestasi Belajar
Prestasi belajar yang dimaksudkan dalam penelitian ini, adalah prestasi belajar mata pelajaran Matematika pada siswa kelas VI semester II Sekolah Dasar Negeri Jatirejo Kecamatan Diwek Kabupaten Jombang Tahun pelajaran 2007/2008 pada semester II.
3. Mata Pelajaran Matematika
Mata pelajaran matematika yang dimaksud dalam penelitian ini adalah dibatasi pada pokok bahasan Bangun Datar pada Jilid 6 buku Matematika 6 Terampil Berhitung untuk sekolah dasar kelas VI
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
II.1 Teori Belajar-Mengajar
Belajar pada hakekatnya adalah suatu aktifitas yang mengharapkan perubahan tingkah laku (behavioral change) pada individu yang belajar. Perubahan tingkah laku tersebut terjadi karena usaha individu yang bersangkutan. Belajar dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti: bahan yang dipelajari, faktor instrumental, lingkungan, dan kondisi individual si pelajar. Faktor-faktor tersebut diatur sedemikian rupa agar mempunyai pengaruh yang membantu tercapainya kompetensi secara optimal.
Proses belajar yang dimaksud untuk mencapai tujuan pendidikan dan pembelajaran merupakan proses yang kompleks dan senantiasa berlangsung dalam berbagai situasi dan kondisi. Percival & Ellington (1984), menggambarkan model sistem pendidikan dalam proses belajar yang berbentuk kotak hitam (black box). Masukan untuk sistem pendidikan atau sistem belajar terdiri dari orang, informasi, dan sumber lainnya. Keluaran terdiri dari orang/siswa dengan penampilan yang lebih maju dalam berbagai aspek, sedangkan diantara masukan dan keluaran terdapat "black box" yang berupa proses belajar atau pendidikan.
Pada dasarnya belajar merupakan kewajiban bagi setiap orang. Dengan belajar maka pengetahuan, keterampilan, kebiasaan, nilai, sikap, tingkah laku, dan semua perbuatan manusia terbentuk disesuaikan dan dikembangkan. Dari berbagai pandangan para ahli yang mencoba memberikan definisi belajar dapat diambil kesimpulan bahwa belajar selalu melibatkan tiga hal pokok yaitu: adanya perubahan tingkah laku, sifat perubahannya relatif permanen serta perubahan tersebut disebabkan oleh interaksi dengan lingkungan, bukan oleh proses kedewasaan ataupun perubahan-perubahan kondisi fisik yang sifatnya sementara. Oleh karena itu, pada prinsipnya belajar adalah proses perubahan tingkah laku sebagai akibat dari interaksi antara siswa dengan sumber-sumber atau obyek belajar, baik yang secara sengaja dirancang maupun yang tidak secara sengaja dirancang. Proses belajar tidak hanya terjadi karena adanya interaksi antara siswa dengan guru. Hasil belajar yang maksimal dapat pula diperoleh lewat interaksi antara siswa dengan sumber-sumber belajar lainnya.
Perolehan belajar, disamping penguasaan materi pembelajaran itu sendiri, dapat juga berupa kemampuan-kemampuan lain. Dari pengalaman belajar yang dialami, seseorang dapat belajar bagaimana caranya belajar.
Untuk memberikan landasan akademik/filosofis terhadap pelaksanaan pembelajaran, maka perlu dikemukakan sejumlah pandangan dari para ahli pendidikan serta pembelajaran. Ada tiga pakar pendidikan yang teori serta pandangannya bisa digunakan sebagai acuan dalam mengembangkan dan mengimplementasikan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), yaitu John Dewey, Vigotsky dan Ausubel. Menurut Dewey (2001), tugas sekolah adalah memberi pengalaman belajar yang tepat bagi siswa. Selanjutnya ditegaskan bahwa tugas guru adalah membantu siswa menjalin pengalaman belajar yang satu dengan yang lain, termasuk yang baru dengan yang lama. Pengalaman belajar baru melalui pengalaman belajar yang lama akan melekat pada struktur kognitif siswa dan menjadi pengetahuan baru bagi siswa.
Sedangkan menurut Vigotsky (2001), terdapat hubungan yang erat antara pengalaman sehari-hari dengan konsep keilmuan (scientific), tetapi ada perbedaan secara kualitatif antara berpikir kompleks dan berpikir konseptual. Berfikir kompleks didasarkan atas kategorisasi obyek berdasarkan suatu situasi, sedangkan berpikir konseptual berbasis pada pengertian yang lebih abstrak.
Menurut Ausubel (1969), pengalaman belajar baru akan masuk ke dalam memori jangka panjang dan akan menjadi pengetahuan baru apabila memiliki makna. Pengalaman belajar adalah interaksi subyek belajar dengan obyek belajar, misalnya siswa mengerjakan tugas membaca, melakukan pemecahan masalah, mengamati suatu gejala, peristiwa, percobaan dan sejenisnya. Agar pengalaman belajar yang baru menjadi pengetahuan baru, semua konsep dalam mata pelajaran diusahakan memiliki nilai terapan di lapangan.
Mengajar adalah membantu siswa memperoleh informasi, ide, keterampilan, nilai, cara berpikir, sarana untuk mengekspresikan dirinya, dan belajar bagaimana belajar (Well & Showers, 1992). Hasil akhir atau hasil jangka panjang dari proses mengajar adalah kemampuan siswa yang tinggi untuk dapat belajar dengan mudah dan efektif di masa mendatang. Tujuan utama dari kegiatan mengajar adalah pada siswa yang belajar. Dengan demikian, hakekat mengajar adalah memfasilitasi siswa agar mereka mendapatkan kemudahan dalam belajar.
Pembelajaran merupakan padanan dari kata dalam bahasa Inggris instruction, yang artinya proses membuat orang belajar, atau memanipulasi (merekayasa) lingkungan sehingga memberi kemudahan bagi orang belajar. Gagne & Briggs (1979) mendefinisikan pembelajaran sebagai suatu rangkaian events (kejadian, peristiwa, kondisi, dan sebagainya) yang secara sengaja dirancang untuk mempengaruhi siswa, sehingga proses belajarnya dapat berlangsung dengan mudah.
II.2 Strategi Pembelajaran
Strategi merupakan suatu upaya, cara ataupun langkah-langkah pendekatan untuk mencapai sesuatu tujuan secara optimal. Strategi pembelajaran merupakan cara-cara yang dilakukan untuk menghasilkan pembelajaran tersebut tercapai sesuai dengan pendekatan tujuan yang direncanakan.
Berdasarkan pada konteks penelitian ini strategi pembelajaran diarahkan pada strategi yang berasosiasi dengan pembelajaran kontekstual. Diantaranya: (1) pengajaran berbasis masalah, (2) pengajaran kooperatif, (3) pengajaran berbasis inquiry, (4) pengajaran berbasis tugas/proyek, (5) pengajaran berbasis kerja, dan (b) pengajaran berbasis jasa layanan. (Nurhadi & Senduk, 2003).
1. Pengajaran Berbasis Masalah
Pengajaran berbasis masalah (Problem-Based Learning) adalah suatu pendekatan pengajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan ketrampilan pemecahan masalah, serta memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi pembelajaran (Nurhadi & Senduk, 2003). Pengajaran berbasis masalah digunakan untuk merangsang berpikir tingkat tinggi dalam situasi berorientasi masalah, termasuk didalamnya belajar bagaimana belajar.
Menurut Ibrahim dan Nur (2000) mengatakan bahwa pengajaran berbasis masalah dikenal dengan nama lain: pembelajaran proyek, pembelajaran berdasarkan pengalaman, pembelajaran autentik, dan pembelajaran berakar pada kehidupan nyata. Peran guru dalam pengajaran berbasis masalah ini adalah menyajikan masalah, mengajukan pertanyaan, dan memfasilitasi penyelidikan dan dialog.
Ada beberapa ciri pengajaran berbasis masalah, diantaranya: (a) pengajuan pertanyaan atau masalah, (b) berfokus pada keterkaitan antar disiplin, (c) penyelidikan autentik, dan (d) menghasilkan produk/karya dan memamerkannya.
Pembelajaran berbasis masalah dirancang untuk membantu guru dalam memberikan informasi sebanyak-banyaknya kepada siswa. Pengajaran berbasis masalah dikembangkan terutama untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir, pemecahan masalah, dan ketrampilan intelektual.
2. Pengajaran Kooperatif
Pengajaran kooperatif (cooperative Learning) memerlukan pendekatan melalui penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar dalam mencapai tujuan belajar (Holubec, 2001 yang dikutip oleh Nurhadi & Senduk, 2003).
Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang secara sadar dan sengaja mengembangkan interaksi yang silih asuh untuk menghindari ketersinggungan dan kesalahpahaman yang dapat menimbulkan permusuhan. Pembelajaran kooperatif merupakan pembelajaran yang secara sadar dan sengaja menciptakan interaksi yang saling mengasihi antar sesama siswa. Abdurrahman dan Bintor (2000) mengatakan bahwa pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang secara sadar dan sistematis mengembangkan interaksi yang silih asah, silih asih, dan silih asuh antar sesama siswa sebagai latihan hidup di dalam masyarakat nyata.
Pembelajaran kooperatif merupakan suatu sistem yang didalamnya terkandung elemen-elemen yang saling terkait. Diantaranya: (a) saling ketergantungan positif, (b) interaksi tatap muka, (c) akuntabilitas individual, dan (d) keterampilan untuk menjalin hubungan antar pribadi atau ketrampilan sosial yang sengaja diajarkan.
Meskipun kerja sama merupakan kebutuhan manusia dalam kehidupan sehari-hari, untuk mengaktualisasikan konsep tersebut kedalam bentuk perencanaan pembelajaran atau program suatu pelajaran bukanlah suatu pekerjaan yang mudah. Dibutuhkan peranan guru dan siswa yang optimal untuk mewujudkan suatu pembelajaran yang benar-benar berbasis kerja sama.
3. Pengajaran Berbasis Inquiry
Dalam pembelajaran dengan penemuan (inquiry), siswa di dorong untuk belajar sebagian besar melalui keterlibatan aktif mereka sendiri dengan konsep-¬konsep dan prinsip-prinsip sendiri (Nurhadi & Senduk, 2003).
Pembelajaran dengan penemuan (inquiry) merupakan suatu komponen penting dalam pendekatan konstruktivistik yang telah memiliki sejarah panjang dalam inovasi atau pembaharuan pendidikan. Belajar dengan penemuan mempunyai beberapa keuntungan. Pembelajaran dengan inquiry memacu keinginan siswa untuk mengetahui, memotivasi mereka untuk melanjutkan pekerjaannya hingga mereka menemukan jawabannya. Siswa juga belajar memecahkan masalah secara mandiri dan memiliki ketrampilan kritis karena mereka harus selalu harus menganalisis dan menangani informasi.
4. Pengajaran Berbasis Tugas/Proyek
Pengajaran berbasis proyek/tugas terstruktur membutuhkan suatu pendekatan pengajaran komprehensif dimana lingkungan belajar siswa di desain agar siswa dapat melakukan penyelidikan terhadap masalah-masalah autentik termasuk pendalaman materi dalam suatu topik mata pelajaran, dan melaksanakan tugas bermakna lainnya. Pendekatan ini memperkenankan siswa untuk bekerja secara mandiri dalam mengkonstruk (membentuk) pembelajarannya, dalam produk nyata.
Ada empat prinsip yang membantu siswa dalam perjalanan menjadi pembelajar mandiri yang efektif. Diantaranya: (a) membuat tugas bermakna, jelas, dan menantang, (b) menganekaragamkan tugas-tugas, (3) menaruh perhatian pada tingkat kesulitan, dan (4) memonitor kemajuan siswa.
5. Pengajaran Berbasis Kerja
Pengajaran berbasis kerja memerlukan suatu pendekatan pengajaran yang memungkinkan siswa menggunakan konteks tempat kerja untuk mempelajari materi pelajaran berbasis sekolah dan bagaimana materi tersebut digunakan kembali di dalam tempat kerja.
Mengajar siswa di kelas adalah suatu bentuk pemagangan. Pengajaran berbasis kerja menganjurkan pentransferan model pengajaran dan pembelajaran yang efektif kepada aktivitas sehari-hari di kelas, baik dengan cara melibatkan siswa dalam tugas-tugas kompleks maupun membantu siswa dalam mengatasi tugas.
6. Pengajaran Berbasis Jasa Layanan
Pengajaran berbasis jasa layanan memerlukan penggunaan metodologi, pengajaran yang mengkombinasikan jasa layanan masyarakat dengan suatu struktur berbasis sekolah untuk merefleksikan jasa layanan tersebut, jadi menekankan hubungan antara pengalaman jasa layanan dan pembelajaran akademis.
Strategi pembelajaran ini berpijak pada pemikiran bahwa semua kegiatan kehidupan dijiwai oleh kemampuan melayani.
II.3 Inquiry
Inquiry merupakan salah satu komponen dari penerapan pendekatan CTL (Contextual Teaching And Learning), yang berarti menemukan. Menurut Nurhadi (2002) menemukan merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis CTL (Contextual Teaching And Learning). Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri.
Inquiry merupakan salah satu dari tujuh komponen penerapan pendekatan kontekstual di kelas. Siklus inquiry sebagai berikut: (1) Observasi (Observation), (2) Bertanya (Questioning), (3) Mengajukan Dugaan (Hipothesis), (4) Pengumpulan Data (Data Gathering), dan (5) Penyimpulan (Conclusion)
II.4 Prestasi Belajar Siswa
1. Belajar
Belajar merupakan suatu proses kegiatan yang dilakukan secara sadar oleh siswa untuk mencapai tujuan. Winkel (1984) mengatakan bahwa belajar adalah suatu aktivitas mental dan psikhis yang berlangsung dalam interaksi dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan pengetahuan, pemahaman, ketrampilan, dan nilai sikap.
Selanjutnya Sukirin (1984) mengatakan bahwa belajar adalah suatu kegiatan yang disengaja untuk merubah tingkah laku sehingga diperoleh kecakapan bar-u.
Hilgard yang dikutip oleh Pasaribu (1983) berpendapat bahwa Learning in the process by wich an activity oreginites or is changed trough responding to u situation provided the changed can not be attributed to growth or the temporary sate of the organisme as in.fatique or under druges. Artinya belajar adalah suatu proses kegiatan yang menghasilkan aktivitas baru atau perubahan kegiatan karena reaksi lingkungan. Perubahan itu tidak dapat disebut belajar apabila disebabkan oleh perubahan atau kesadaran sementara orang tersebut karena kelelahan atau karena obat-obatan, sehingga orang tersebut tidak sadar terhadap keadaan dirinya. Perubahan yang dimaksud adalah perubahan pengetahuan, kecakapan dan tingkah laku. Perubahan itu diperoleh dengan latihan dan pengalaman bukan perubahan dengan sendirinya.
Hamalik (2002) mengatakan bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku yang relatif mantap berkat latihan dan pengalaman.
Masalah pokok yang dihadapi dalam belajar adalah bahwa proses belajar tidak dapat diamati secara langsung dan kesulitan untuk menentukan kepada terjadinya perubahan tingkah laku belajarnya. Untuk dapat mengamati terjadinya perubahan tingkah laku tersebut hanya dapat diketahui bila telah mengadakan penilaian. Itulah sebabnya pengadilan dan pengontrolan proses belajar dapat dilakukan bila proses belajar tersebut direncanakan dalam desain sistem belajar yang cermat.
Dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa belajar adalah proses perubahan tingkah laku yang dilakukan secara sadar, baik itu perubahan pengetahuan, kecakapan dan ketrampilan, dan perubahan tesebut dilakukan secara berkesinambungan.
2. Prestasi Belajar
Dalam Ensiklopedia (1971), prestasi merupakan kata yang berdiri sendiri yang berarti produksi yang dicapai oleh tenaga atau daya kerja seseorang dalam kurun waktu tertentu.
Pendapat lain disampaikan oleh Woodworth (1951) mengatakan bahwa prestasi (achivement) adalah actual ability and can he measured directly by use of test. Artinya prestasi menunjukkan suatu kemampuan aktual yang dapat diukur secara langsung dengan menggunakan tes.
Dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa prestasi merupakan hasil kerja seseorang yang dapat dilihat secara nyata oleh orang lain dan hasil kerja tersebut dapat diukur secara langsung dengan tes.
Berkaitan dengan prestasi belajar, belajar akan lebih mudah dan dapat dirasakan bila belajar tersebut mengetahui hasil yang diperoleh. Kalau belajar berarti perubahan-perubahan yang terjadi pada individu, maka perubahan-¬perubahan itu harus dapat diamati dan dinilai. Hasil dari pengamatan dan penilaian inilah umumnya diwujudkan dalam bentuk prestasi belajar. Menurut Gagne yang dikutip oleh Badawi (1987) mengatakan bahwa hasil belajar dapat diukur dengan menggunakan tes karena hasil belajar berupa ketrampilan intelaktual, strategi kognitif, informasi verbal, ketrampilan, dan nilai dan sikap.
II.5 Mata Pelajaran Matematika
Mata pelajaran Matematika yang dimaksud dalam penelitian ini adalah dibatasi pada pokok bahasan memecahkan perbandingan skala pada Jilid 6 buku Matematika 6, Sekolah Dasar Kelas 6.
Materi pokok mata pelajaran Matematika kelas VI pada bahasan memecahkan perbandingan skala tersebut meliputi: (1) Membaca gambar atau denah berskala dan (2) Membuat gambar atau denah berskala.
BAB III
METODE PENELITIAN
III.1 Pendekatan dan Jenis Penelitian
Penelitian tindakan (action research) bertujuan mengembangkan keterampilan-keterampilan baru atau cara pendekatan baru dan untuk memecahkan masalah dengan penerapan langsung di dunia kerja atau di tempat lainnya.
Penelitian tindakan adalah pengkajian terhadap permasalahan dengan ruang lingkup yang tidak terlalu luas yang berkaitan dengan sesuatu perilaku seseorang atau sekelompok orang tertentu di suatu lokasi tertentu, disertai dengan penelaahan yang teliti terhadap suatu perlakuan tertentu dan mengkaji sampai sejauh mana dampak perlakuan itu terhadap perilaku yang sedang diteliti. Pengkajian itu dilakukan dalam rangka mengubah, memperbaiki, dan atau meningkatkan mutu perilaku itu, atau menghilangkan aspek negatif dari perilaku yang sedang diteliti itu. Penelitian tindakan merupakan pengkajian terhadap permasalahan praktis yang bersifat situasional dan kontekstual, yang ditujukan untuk menentukan tindakan yang tepat dalam rangka pemecahan masalah yang dihadapi atau memperbaiki sesuatu, dan pada umumnya dilaksanakan secara kolaboratif antara peneliti dan subyek yang diteliti, melalui prosedur penilaian diri.
Karena penelitian tindakan adalah suatu bentuk penelaahan atau inquiri melalui refleksi diri yang dilakukan oleh peserta kegiatan pendidikan tertentu (misalnya guru, siswa dan atau kepala sekolah) dalam situasi sosial termasuk pendidikan untuk memperbaiki rasionalitas dan kebenaran serta keabsahan. Oleh sebab itu pendekatan yang paling cocok digunakan dalam penelitian tindakan adalah pendekatan naturalistik.
Pendekatan naturalistik adalah pendekatan penelitian yang dalam menjawab pertanyaan, memerlukan pemahaman secara mendalam dan menyeluruh dalam konteks waktu dan situasi yang bersangkutan.
Pendekatan naturalistik memandang kenyataan sebagai suatu yang berdimensi jamak, utuh dan merupakan kesatuan serta open-ended. Karena itu, tidak mungkin disusun rancangan penelitian yang terinci dan fixed sebelumnya. Rancangan penelitian berkembang selama proses penelitian berlangsung.
Menurut Sugiyono (1997), proses penelitian naturalistik bersifat siklus, bukan linier seperti dalam penelitian kuantitatif. Oleh karena bersifat siklus, maka penelitian dilakukan secara berulang-ulang. Jumlah periode pengulangan tergantung kepada tingkat kedalaman dan ketelitian yang dikehendaki, yang akhirnya penelitian akan makin terfokus pada masalah yang sebenarnya terjadi pada obyek/subyek penelitian.
Peneliti dan obyek yang diteliti saling berinteraksi, yang proses penelitiannya dilakukan dari luar maupun dari dalam dengan banyak melibatkan judgement. Dalam pelaksanaannya, peneliti sekaligus berfungsi sebagai alat penelitian yang tentunya tidak bisa melepaskan diri sepenuhnya dari unsur subyektifitas. Dengan kata lain, dalam penelitian ini tidak ada alat penelitian baku yang telah disiapkan sebelumnya. Pendekatan naturalistik sering juga disebut sebagai pendekatan kualitatif, seperti dikatakan oleh Guba & Wolf bahwa penelitian kualitatif sering disebut naturalistik karena peneliti tertarik menyelidiki peristiwa-peristiwa sebagaimana terjadi secara alamiah. Data dikumpulkan oleh orang-orang yang berperilaku wajar, berbicara, berkunjung, melihat dan sebagainya.
Hasil penelitian lebih merupakan deskripsi interpretasi yang bersifat tentatif dalam konteks waktu ataupun situasi tertentu. Kebenaran hasil penelitian lebih banyak didukung melalui kepercayaan (trustworthiness) berdasarkan konfirmasi hasil oleh pihak-pihak yang diteliti.
III.2 Kehadiran Peneliti
Kehadiran peneliti di lapangan bertindak sebagai pengamat partisipan, yang tergolong partisipasi aktif artinya keikut sertaan peneliti atau kehadiran dalam setting ikut serta dalam situasi kegiatan sekaligus sebagai pengamat (observer). Hal ini dimungkinkan karena dalam peneIitian tindakan kelas peneliti selain sebagai pengamat juga sebagai guru bidang study yang terlibat langsung dalam proses pembelajaran di kelas.
Kehadiran peneliti sekaligus sebagai subyek penelitian ditentukan sejak kelas tersebut digunakan sebagai setting penelitian, yaitu dimulai tanggal 5 Maret 2008 sampai dengan tanggal 7 April 2008. Pengambilan data dilakukan dua kali dalam satu minggu, sesuai dengan jadwal pelajaran Matematika yaitu pada hari Senin dan Rabu.
III.3 Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian berada di SD Negeri Jatirejo Kecamatan Diwek Kabupaten Jombang. Kelas yang digunakan sebagai latar penelitian adalah kelas VI (enam) dengan jumlah 20 siswa, yang terdiri dari 9 siswa laki-laki dan 11 siswa perempuan. Mata pelajaran yang digunakan sebagai obyek penelitian adalah mata pelajaran Matematika kelas VI SD dengan pokok bahasan memecahkan masalah perbandddingan skala semester I.
III.4 Sumber Data
Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data yang sesuai dengan fokus penelitian, yaitu pengaruh pembelajaran inquiry mata pelajaran Matematika terhadap peningkatan prestasi belajar siswa kelas VI SD Negeri Jatirejo Kecamatan Diwek Kabupaten Jombang. Jenis data dalam penelitian ini dibedakan menjadi dua yaitu data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dalam bentuk verbal atau ucapan lisan dari para siswa dan guru kelas VI SD Negeri Jatirejo, sedangkan data sekunder berupa dokumen siswa, seperti daftar nilai, buku rapor dan sebagainya.
Sumber data utama dari penelitian ini adalah hasil tes dari para siswa kelas VI sekolah tersebut serta sumber data yang lain, misalnya: guru kelas dan lain-lain.
III.5 Prosedur Pengumpulan Data
Untuk mendapat data-data yang diperlukan, penelitian ini menggunakan cara sebagai berikut: (1) library research, yaitu pengumpulan data melalui perpustakaan, dan (2) field research, yaitu mencari data dari tempat penelitian (penelitian lapangan). Dalam pengumpulan data digunakan prosedur sebagai berikut:
1. Wawancara
Wawancara adalah tanya jawab lisan dengan maksud untuk dipublikasikan. Dalam pengumpulan data ini diperoleh dengan mengadakan wawancara secara langsung, terbuka dan tidak terstruktur, terhadap guru kelas yang mengajar kelas VI.
2. Kuesioner
Kuesioner adalah suatu penyelidikan mengenai suatu masalah yang umumnya banyak menyangkut kepentingan umum (orang banyak) dilakukan dengan jalan mendengarkan, daftar pertanyaan yang diajukan secara tertulis kepada sejumlah subyek untuk mendapatkan jawaban atau tanggapan (respons) tertulis sepenuhnya.
Daftar pertanyaan yang tersusun diajukan kepada siswa kelas VI SD Negeri Jatirejo Kecamatan Diwek Kabupaten Jombang yang mengikuti pembelajaran inquiry. Kuesioner yang dipakai sudah disediakan jawaban sehingga responden tinggal memilih jawaban sesuai dengan keinginannya/ kepentingan tentang dirinya.
3. Dokumen
Dokumen berarti catatan-catatan penting bukti tertulis dari suatu kejadian Dengan teknik dokumen ini data yang diperlukan adalah :
a. Data tentang keadaan dan jumlah siswa kelas VI SD Negeri Jatirejo Kecamatan Diwek Kabupaten Jombang, yang mengikuti pembelajaran dengan strategi inquiry. Data ini dapat diperoleh dari guru kelas yang mengajar di kelas VI.
b. Data tentang dokumen siswa kelas VI SD Negeri Jatirejo Kecamatan Diwek Kabupaten Jombang mengenai pembelajaran inquiry dalam bidang Matematika. Nilai ini dapat diperoleh dari dokumen hasil ulangan harian pada semester I tahun pelajaran 2007/2008.
III.6 Rencana Penelitian
1. Langkah-langkah Penelitian
Adapun langkah-langkah yang dilakukan oleh peneliti dalam penelitian ini adalah:
a. Observasi lokasi penelitian.
Tahap ini merupakan tahap orientasi lapangan dengan tujuan untuk mengenal segala unsur lingkungan fisik dan alam sekitar. Menurut Nasution (1988) yang dimaksud dengan observasi adalah dasar semua ilmu pengetahuan selama di lapangan, peneliti berusaha berinteraksi dengan subjek secara aktif, sebab observasi adalah kegiatan selektif dart suatu proses aktif. Dimaksudkan untuk mengetahui keadaan obyek penelitian sebelum peneliti melakukan penelitian sesuai dengan kenyataan yang ada.
b. Penentuan lokasi penelitian.
Tahap ini memastikan bahwa Sekolah Dasar Negeri Jatirejo Kecamatan Diwek Kabupaten Jombang dijadikan sebagai latar penelitian dengan pertimbangan tempat yang diteliti tersedia sumber data yang cukup.
c. Pengumpulan data awal
Pengumpulan data awal untuk pemfokusan masalah penelitian dilakukan peneliti dengan mengadakan pengamatan langsung. Hal ini dimaksudkan, agar mendapatkan data yang valid dan reliable sesuai dengan kondisi obyek penelitian. Dengan melakukan pengamatan langsung, maka peneliti akan memperoleh catatan lapangan yang dapat dipertanggungjawabkan. Moleong (1995) menyebutkan bahwa catatan lapangan merupakan jantungnya penelitian kualitatif. Selanjutnya Moleong (1995) mengatakan bahwa penelitian kualitatif memposisikan manusia sebagai instrumen utama dalam pengumpulan data. Kehadiran peneliti di lapangan sangat diutamakan, sebab dalam pengumpulan data harus dilakukan dalam situasi yang sebenarnya. Selanjutnya penelitian ini dilaksanakan dengan siklus sebagai berikut:
a. Pada tahap awal (pra siklus), siswa diberikan beberapa pertanyaan (pra pengetahuan) yang berhubungan dengan pelajaran Matematika yang sesuai dengan pokok bahasan memecahkan masalah perbandingan skala kelas VI semester I
b. Pada siklus I, guru menyajikan pembelajaran Matematika dengan pokok bahasan bilangan pecahan tanpa menerapkan metode inquiry. Di akhir KBM diberikan evaluasi. Hasil test dianalisis. Pada siklus ini untuk mengetahui prestasi belajar siswa mula-mula.
c. Pada siklus II, guru menyajikan pembelajaran Matematika tentang memecahkan masalah perbandingan skala dengan menerapkan metode inquiry, terus diadakan evaluasi dan dianalisis prestasi belajar siswa. Pada siklus ini untuk melihat apakah ada peningkatan prestasi belajar siswa, dibandingkan dengan siklus sebelumnya. Setelah itu siswa diberi angket refleksi siswa yang berkaitan dengan pelakanaan KBM dengan metode inquiry.
d. Pada siklus III , guru mengadakan ulangan harian yang terdiri dari materi memecahkan masalah perbandingan skala. Hasilnya dianalisis. Pada siklus ini merupakan siklus pemantapan hasil guru melaksanakan pembelajaran inquiry, diharapkan dapat mengambil suatu kesimpulan tentang dampak pelaksanan metode inquiry pada prestasi belajar siswa.
Siklus
I
Siklus
II
Hipotesa
Tindakan
Temuan
Gambar 3.1 Prosedur Penelitian
2. Siklus Penelitian
Jumlah siklus penelitian adalah 3 (tiga) siklus. Alasannya digunakan tiga siklus adalah setiap siklus memiliki karakteristik tersendiri. Waktu yang diguanakan dalam siklus I, II dan III adalah bertahap dan antar siklus saling berkaitan untuk mendukung perolehan data. Tahapan-tahapan ini dilakukan untuk sekaligus merefleksi tindakan yang telah/pernah dilakukan, kemudian mencari titik-titik usaha peningkatan dengan berbagai teknik dan cara sehingga mencapai hasil optimal yang diharapkan.
Pada pokok bahasan memecahkan masalah perbandingan skala memang terdapat kesulitan bagi siswa kelas VI yang pertama kali dikenalkan. Disinilah peran guru sangat penting untuk mencari teknik dan metode pembelajaran agar siswa mudah memahami, sekaligus menyenangi mata pelajaran Matematika.
III.7 Instrumen Penelitian
Pada prinsipnya dalam penelitian ini, peneliti dan sekaligus guru kelas yang menjadi instrumen utama serta berusaha mengumpulkan sendiri hasil observasi yang diperlukan (Nasution, 1992).
Instrumen yang digunakan untuk meneliti adalah penilaian yang dilakukan sesuai dengan standar yang telah ditentukan oleh guru. Bentuk tes yang digunakan adalah uraian obyektif. Penskoran dilakukan secara analitik, yaitu setiap langkah pengerjan diberi skor. Penskoran juga bersifat hierarkhis, sesuai dengan langkah pengerjaan soal.
Kriteria penilaian pada tiap-tiap siklus penelitian sekaligus berfungsi sebagai rambu-rambu refleksi, dan indikator tingkat keberhasilan siswa. Adapun kriteria tersebut ditentukan sebagai berikut:
1. Nilai 86 - 100 = A (baik sekali)
2. Nilai 70 - 85 = B (baik)
3. Nilai 60 - 69 = C (cukup)
4. Nilai 50 - 59 = D (kurang)
5. Nilai 0 - 49 = E (kurang sekali)
III.8 Analisis Data
Analisis data adalah proses menyusun, mengkategorikan data, mencari pola atau tema, dengan maksud untuk memahami maknanya (Nasution, 1988). Menurut Bogdan & Biklen (1992), analisis data merupakan proses mencari dan mengatur secara sistematis transkrip wawancara, catatan lapangan dan bahan-bahan lain yang telah dihimpun oleh peneliti, untuk menambah pemahaman peneliti sendiri mengenai bahan¬-bahan itu semua dan untuk memungkinkan peneliti melaporkan apa yang ditemukan kepada pihak-pihak lain. Menurut Bogdan & Biklen pekerjaan analisis meliputi kegiatan mengerjakan data, menatanya, membagi menjadi satuan-satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari pola, menemukan apa yang penting dan apa yang akan peneliti laporkan.
Analisis menurut Patton (1980) adalah proses mengatur urutan data, mengorganisasikannya ke dalam suatu pola kategori dan satuan uraian dasar. Analisis data adalah proses yang merinci usaha secara formal untuk menemukan tema dan merumuskan hipotesis sesuai dengan arah dan saran data yang ada. Miles dan Hubermen (1984) mengatakan analisis data perlu dilakukan secara terus menerus selama penelitian berlangsung. Moleong (1995:103) mengemukakan, "analisis data adalah proses pengorganisasian dan pengurutan data ke dalam pola, kategori dan satuan uraian dasar, sehingga dapat ditemukan tema seperti yang disarankan oleh data." Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif. Dengan maksud bahwa penelitian deskriptif dirancang untuk memperoleh informasi tentang status gejala pada saat penelitian dilakukan. Setelah data hasil penelitian terkumpul maka, selanjutnya data tersebut disusun secara sistematis. Dengan cara diorganisir, kemudian dikerjakan yang akhirnya data tersebut diungkap permasalahan yang penting sesuai dengan topik yang sesuai dengan permasalahan.
Proses analisis data pada penelitian ini, dengan langkah-langkah, sebagai berikut:
1. Dari pengumpulan data di lapangan yang dimulai bulan Maret 2008 dianggap cukup maka seluruh data dibaca berulang-ulang, kemudian diidentifikasi dan dikelompokkan siswa yang sudah tuntas dan yang tidak tuntas belajarnya.
2. Data yang terkumpul lalu diolah dengan metode pengolahan data prosentase dengan menggunakan rumus:
P =
Dengan P = Prosentase, F = Frekuensi dari jawaban alternatif jawaban yang berhubungan dengan masalah yang dinyatakan, dan N = Jumlah seluruh responden.
3. Tingkat penguasan siswa dikelompokkan sebagai berikut:
90 % - 100 % = baik sekall
80 %- 89 % = baik
70 % - 79 % = cukup
< 70 % = kurang
4. Setiap kategori data yang didapatkan, selanjutnya dideskripsikan dalam laporan penelitian yang terangkum dalam temuan penelitian, kemudian hasil rangkuman dibahas dengan membandingkannya dengan teori yang ada. Peneliti juga memberikan komentar-komentar bahkan saran-saran terhadap penentuan sikap terbaik dalam bentuk pemecahan masalah yang dapat digunakan sebagai wacana / atau langsung dilakukan jika memungkinkan dari temuan kasus-kasus di kelas VI SD Negeri Jatirejo Kecamatan Diwek Kabupaten Jombang.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
IV.1 Hasil penelitian (Paparan Data)
Dalam paparan data hasil penelitian ini, peneliti akan memaparkan kegiatan per siklus yang dilaksanakan. Yaitu : siklus 1, siklus 2 dan siklus 3.
1. Siklus 1
Pada siklus ini rencana tindakan dilakukan selama 2 jam pertemuan dengan alokasi waktu 2 x 35 menit setiap pertemuan. Dalam melaksanakan strategi pembelajaran, guru hanya mengemukakan orientasi dan prosedur kerja siswa sebagai kegiatan pembuka. Pada kegiatan inti pelajaran, menjelaskan sesuai dengan pokok bahasan mata pelajaran Matematika, yaitu memecahkan masalah perbandingan skala pada Jilid 6 buku pelajaran Matematika 6 untuk Sekolah Dasar Kelas 6. Sedangkan 15 menit sebelum kegiatan diakhiri guru memberikan evaluasi dan refleksi siswa.
Siklus 1 membahas pokok bahasan memecahkan masalah perbandingan skala materi pokok matsa pelajaran Matematika kelas VI pada bahasan yang meliputi: (1) menemukan panjang sebenarnya gambar berskala, dan (2) menemukan panjang gambar pada gambar berskala). Dari siklus 1 didapatkan data dari hasil evaluasi hasil belajar siswa kelas VI SD Negeri Jatirejo tanpa penerapan metode pembelajaran inquiry, adalah sebagai berikut:
Tabe1 4.1
Daftar Nilai siswa pada siklus 1
NO NAMA SISWA HASIL BELAJAR
1 Hari Joko Santoso 60
2 Joni Adi Pranata 70
3 Agung Tegar P 50
4 Moh. Ali Imron 60
5 Moh. Syamsul Arifin 60
6 Moh. Sholeh 70
7 Moh. Jovan Efendi 50
8 Misiyanto 60
9 Siti Kurnia Yuriva 50
10 Yoga Pratama 40
11 Desi Puspita Sari 45
12 Dia Ratna Sari 55
13 Dwi Ratnawati 65
14 Ervin Indrawati 55
15 Erna Puji Rahayu 50
16 Enori Dwi Saputra 60
17 Ima Lidiana 50
18 Muji Lestari 70
19 Nina Lismiati 65
20 Oky Dewaris S 55
Dari data hasil belajar tersebut dapat didistribusikan frekuensi hasil belajar siswa kelas VI Sekolah Dasar Negeri Jatirejo Diwek pada siklus I sebagai berikut :
Tabel 4.2
Distribusi Frekuensi Hasil Belajar Siswa pada Siklus 1
NO NILAI Frekwensi Frekwensi % Kategori
Motivasi
1.
70
3 15.00% Baik
2. 65 2 10.00% cukup
3.
60
5 25.00% cukup
4. 55 3 15.00% kurang
5. 50 5 25.00% kurang
6. 45 1 5.00% Kurang sekali
7. 40 1 5.00% Kurang Sekali
Total : 20 100%
Dari frekuensi data tersebut diketahui nilai terendah 40 frekuensi 1 dengan prosentase 5%, dan nilai tertinggi 70 frekuensi 3 dengan prosentase 15 %. Dari data tersebut menunjukkan bahwa nilai di atas rata rata yang dicapai siswa tidak ada dengan kata lain tidak ada siswa yang mendapat nilai dengan kategori baik sekali (tergolong nilai tinggi). Sedangkan kategori baik nilai 70 frekuensi 3 dengan prosentase 15%, nilai 59 sampai dengan nilai 40 dengan total frekuensi adalah 10 dengan prosentase 50 %.
Hal ini menunjukkan bahwa motivasi belajar siswa kelas VI Sekolah Dasar Jatirejo Kecamatan Diwek, dalam siklus pertama didapatkan 43,48 % pada kelompok nilai kurang dan kurang sekali. Untuk kategori baik dan cukup sekitar 56,52 %.
Dalam tahapan ini motivasi belajar siswa sangat kurang, tanggapan terhadap masalah yang disampaikan guru masih rendah, hal ini mengindikasikan tidak ada peningkatan prestasi belajar siswa sehingga perlu guru menindaklanjuti pada kegiatan belajar di siklus kedua mengadakan perbaikan-perbaikan pada sistem pembelajarannya, khususnya pada metode pembelajarannya.
2. Siklus 2
Pada siklus ini rencana tindakan dilakukan selama 2 jam pertemuan dengan alokasi waktu 2 x 35 menit setiap pertemuan. Dalam melaksanakan strategi pembelajaran, guru mengemukakan orientasi dan prosedur kerja siswa sebagai kegiatan pembuka. Pada kegiatan inti pelajaran, guru membagikan lembar kerja siswa dengan materi pokok bahasan mata pelajaran Matematika, yaitu memecahkan masalah perbandingan dan skala pada Jilid 6 buku pelajaran Matematika 6 untuk Sekolah Dasar Kelas 6. Sedangkan kegiatan penutup guru menyimpulkan hasil pembahasan dari kegiatan siswa sebagai pemantapan, yang dilanjutkan dengan evaluasi.
Siklus 2 membahas pokok bahasan memecahkan masalah perbandingan dan skala materi pokok mata pelajaran Matematika kelas VI pada bahasan yang meliputi: (1) menemukan panjang sebenarnya gambar berskala, dan (2) menemukan panjang gambar pada gambar berskala) gambar berskala. Materinya sama dengan kegiatan pada siklus I, sehingga proses kegiatannya juga tidak terlalu berbeda dengan siklus I. Perbedaan yang mencolok adalah penerapan metode inquiry pada siklus ini.
Berikut ini dipaparkan hasil belajar secara prosentase dari siswa kelas VI Sekolah Dasar Negeri Jatirejo Kecamatan Diwek dalam siklus 2. Adapun hasilnya adalah sebagai berikut:
Tabel 4.3
Daftar Nilai Siswa pada Siklus 2
NO NAMA SISWA HASIL BELAJAR
1 Hari Joko Santoso 80
2 Joni Adi Pranata 75
3 Agung Tegar P 70
4 Moh. Ali Imron 65
5 Moh. Syamsul Arifin 75
6 Moh. Sholeh 80
7 Moh. Jovan Efendi 90
8 Misiyanto 70
9 Siti Kurnia Yuriva 70
10 Yoga Pratama 75
11 Desi Puspita Sari 80
12 Dia Ratna Sari 75
13 Dwi Ratnawati 70
14 Ervin Indrawati 65
15 Erna Puji Rahayu 75
16 Enori Dwi Saputra 80
17 Ima Lidiana 90
18 Muji Lestari 90
19 Nina Lismiati 90
20 Oky Dewaris S 80
Dari data hasil belajar tersebut dapat didistribusikan frekuensi hasil belajar siswa kelas VI Sekolah Dasar Negeri Jatirejo Diwek pada siklus 2 adalah sebagai berikut:
Tabel 4.4
Distribusi Frekuensi Hasil Belajar Siswa pada Siklus 2
N O NILAI Frekuensi Frekuensi % Kategori
Motivasi
1. 90 4 20.00% Baik sekali
2. 85 0 0.00% Baik
3. 80 5 25.00% Baik
4. 75 5 25.00% Baik
5. 70 4 20.00% Baik
6. 65 2 10.00% Cukup
7. 60 0 0.00% Cukup
Total : 20 100%
Dari frekuensi data tersebut diketahui nilai terendah 65 frekuensi 2 dengan prosentase 10%, dan nilai tertinggi 90 frekuensi 4 dengan prosentase 20%.
Dan data tersebut menunjukkan bahwa nilai di atas rata rata (tergolong nilai tinggi) adalah nilai 70 ke atas dengan frekuensi 18 dengan prosentase 90%. Sedangkan kategori cukup nilai di bawah 7 frekuensinya 2 dengan prosentase 10%.
Hal ini menunjukkan bahwa nilai hasil belajar siswa kelas VI Sekolah Dasar Negeri Jatirejo Kecamatan Diwek Kabupaten Jombang, dalam siklus kedua ini menunjukkan peningkatan yang signifikan. Ini menunjukkan bahwa antara siklus I dan siklus Il, motivasi belajar siswa dengan strategi pembelajaran inquiry terdapat peningkatan. Pada siklus I nilai dengan kategori baik ada 3 siswa dengan prosentase 15 %, sedangkan pada pelaksanaan siklus II peningkatan drastis dengan nilai kategori baik mencapai 18 siswa dengan prosentase 90 % kenaikannya adalah 75%.
Peningkatan motivasi belajar siswa ini menunjukkan bahwa prestasi belajar dipengaruhi oleh strategi belajar yang diberikan guru. Prestasi belajar dapat baik bila motivasi belajarnya juga baik.
3. Siklus 3
Pada siklus 3 merupakan siklus pemantapan dari siklus 2, pada tahapan ini siswa diberikan ulangan harian yang terkait dengan pembahasan ememecahkan masaklah perbandingan dan skala yang meliputi: (1) menemukan panjang sebenarnya gambar berskala, dan (2) menemukan panjang gambar pada gambar berskala. Adapun data yang diperoleh dari siklus 3 adalah sebagai berikut.
Tabe1 4.5
Daftar Nilai Siswa pada Siklus 3
NO NAMA SISWA HASIL BELAJAR
1 Hari Joko Santoso 80
2 Joni Adi Pranata 80
3 Agung Tegar P 75
4 Moh. Ali Imron 70
5 Moh. Syamsul Arifin 80
6 Moh. Sholeh 70
7 Moh. Jovan Efendi 75
8 Misiyanto 85
9 Siti Kurnia Yuriva 75
10 Yoga Pratama 80
11 Desi Puspita Sari 70
12 Dia Ratna Sari 75
13 Dwi Ratnawati 80
14 Ervin Indrawati 90
15 Erna Puji Rahayu 70
16 Enori Dwi Saputra 75
17 Ima Lidiana 75
18 Muji Lestari 80
19 Nina Lismiati 75
20 Oky Dewaris S 85
Dari data hasil belajar tersebut dapat didistribusikan frekuensi hasil belajar siswa kelas VI Sekolah Dasar Negeri Jatirejo Kecamatan Diwek pada siklus 2 adalah sebagai berikut:
Tabe1 4.6
Distribusi Frekuensi Hasil Belajar Siswa pada Siklus 3
NO NILAI Frekuensi Frekuensi % Kategori
Motivasi
1. 90 1 5.00% Baik sekali
2. 85 2 10.00% Baik
3. 80 6 30.00% Baik
4. 75 7 35.00% Baik
5. 70 4 20.00% Baik
6. 65 0 0.00% Cukup
7. 60 0 0.00% Cukup
Total: 20 100%
IV.2 Pembahasan dan Refleksi Hasil Penelitian
Berdasarkan data yang diperoleh pada siklus 1, bahwa dari 20 siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran Matematika dengan menggunakan metode konvensional (ceramah) dan kemudian dievaluasi, ternyata diperoleh hasil jumlah siswa yang mendapatkan nilai dengan kategori baik adalah 4 siswa dengan prosentase 17,39 %. Dilihat dari hasil belajar tersebut belum memenuhi kriteria yang diharapkan. Hal ini mencerminkan keadaan yang sesungguhnya kemajuan belajar siswa secara alamiah (tanpa ada tindakan kelas). Berdasarkan pengamatan pada siklus ini suasana kelas belum kondusif, siswa masih kurang aktif, gairah bertaya kurang serta belum ada usaha untuk mendapatkan informasi dengan menulis atau bertanya kepada teman atau guru.
Pada siklus 2 menunjukkan, bahwa setelah diadakan perubahan metode pembelajaran dengan metode inquiry ternyata ada 18 siswa yang mendapat nilai dengan kriteria baik dengan prosentase 90 %. Berarti membuktikan adanya kenaikan prestasi belajar siswa dengan kriteria baik sebesar 75 % di siklus 1. Hal ini setelah dianalisis dapat terjadi karena ada usaha-usaha pada diri siswa untuk belajar di rumah, dan untuk aktif dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Kenyataan lain juga memberikan bukti selama siklus 2 berlangsung, siswa lebih aktif untuk mengikuti jalannya pembelajaran.
Pada siklus 3 tampak dari 20 siswa, setelah diberikan ulangan harian terdapat kenaikan prestasi belajar siswa. Kenyataan ini setelah di analisis bahwa siswa semakin giat belajar di rumah dan juga berusaha untuk terus mengikuti pelajaran dengan sebaik¬-baiknya di kelas. Siswa yang telah merasa memiliki kenaikan nilai dari minggu sebelumnya terus berpacu meningkatkan daya serapnya. Dari siklus 3 ini nampak sekali pengaruh positif dari adanya pembelajaran inquiry terhadap kenaikan prestasi belajar siswa. Pada siklus ini merupakan kegiatan ulangan harian dengan materi mulai siklus 1 dan siklus 2 secara keseluruhan. Berdasarkan kenyataan ini peneliti memiliki bukti kuat bahwa ada pengaruh positif dari pelaksanaan pembelajaran inquiry terhadap kenaikan prestasi belajar siswa baik secara individu maupun secara klasikal pada kelas VI SD Negeri Jatirejo Kecamatan Jombang. Dengan kata lain pelaksanaan pembelajaran (metode) inquiry sangat efektif untuk meningkatkan prestasi belajar siswa.
Dari pelaksanaan penelitian tindakan kelas yang dilakukan oleh peneliti menunjukkan bahwa Penerapan Strategi Pembelajaran Inquiry dapat Meningkatkan Prestasi Belajar Mata Pelajaran Matematika pada Siswa Kelas VI semester I Sekolah Dasar Negeri Jatirejo Kecamatan Diwek Kabupaten Jombang. Hal ini ditunjukkan oleh prestasi siswa tersebut dalam mempelajari mata pelajaran Matematika pokok bahasan Bangun Datar. Hasil belajar (prestasi) yang diperoleh sangat menunjukkan hasil yang signifikan dengan menggunakan strategi pembelajaran inquiry. Dengan hasil belajar yang baik menunjukkan motivasi siswa kelas VI semester I Sekolah Dasar Negeri Jatirejo Kecamatan Diwek Kabupaten Jombang meningkat dengan strategi pembelajaran inquiry.
BAB V
PENUTUP
V.1 Kesimpulan
Berdasarkan pada hasil penelitian ini, dapat dirumuskan beberapa kesimpulan, antara lain:
1. Strategi pembelajaran inquiry dapat meningkatkan motivasi belajar siswa kelas VI semester I Sekolah Dasar Negeri Jatirejo Kecamatan Diwek Kabupaten Jombang. Sebagai buktinya bahwa pengajaran yang dilakukan mengalami peningkatan yang signifikan dari hasil belajar yang diperoleh siswa. Dari siklus 1 ke siklus 2 begitu juga dari siklus 2 ke siklus 3 , motivasi belajar siswa dengan strategi pembelajaran inquiry menunjukkan peningkatan. Pada siklus I nilai dengan kriteria baik 15 %, tetapi pada pelaksanaan siklus 2 meningkat secara drastis menjadi 90 % dan pada siklus 3 meningkat menjadi 100 %. Peningkatan motivasi belajar siswa ini menunjukkan bahwa prestasi belajar dipengaruhi oleh strategi pembelajaran yang diberikan guru. Prestasi belajar dapat baik bila motivasi belajarnya juga baik.
2. Inquiry salah satu komponen Contekstual Teaching and Learning (CTL). Strategi ini dapat dilakukan pada semua mata pelajaran.
3. Strategi pembelajaran dengan menggunakan strategi pembelajaran inquiry dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas VI semester I Sekolah Dasar Negeri Jatirejo Kecamatan Diwek Kabupaten Jombang pada mata pelajaran Matematika.
V.2 Saran-saran
Berdasarkan kesimpulan tersebut, maka dapat disampaikan saran-saran sebagai berikut :
1. Bagi guru Sekolah Dasar agar mempertimbangkan pemberian materi pelajaran dengan mengenalkan dan menggunakan berbagai macam strategi. Salah satunya adalah strategi pembelajaran yang digunakan adalah strategi inquiry (menemukan).
2. Kepada guru yang mengajarkan mata pelajaran Matematika, karena dirasa oleh para siswa pelajaran matematika itu sulit, maka selalu mengembangkan diri dan kreatif dalam melaksanakan pembelajaran di kelas.
3. Bagi kepala sekolah untuk mempertimbangkan dalam setiap mengambil kebijakan bidang srategi pembelajaran, untuk mengacu pada hasil penelitian tindakan kelas ini.
DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahman, M., & Bintoro, T. 2000. Memahami dan Menangani .Siswa dengan Problema dalam Belajar: Pedoman Guru. Jakarta: Proyek Peningkatan Mutu SLTP, Direktorat Pendidikan Menengah Umum, Dirjen Dikdasmen, Departemen Pendidikan Nasional.
Hamalik, O. 2002. Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem. Jakarta: PT Bumi Aksara
Miles, M. B., & Hubermen, A.M. 1984. Analisis Data Qualitatif. Terjemahan oleh Tjetjep Rohendi Rohidi. Universitas Indonesia, Jakarta.
Moleong, L. J. 1995. Metodologi Penelitian Kualitat.i Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Moleong, L. J. 2000. Metodologi Penelilian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Moesono, D & Sujono. 1993. Matematika 5, Mari Berhitung, Petunjuk Guru Sekolah Dasar Kelas 5. Jakarta: Departemen P dan K.
Nasution, S. 1988. Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif. Bandung: Penerbit Tarsito
Nurhadi, & Senduk, G., A., 2003. Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya dalam KBK. Jombang: Universitas Negeri Malang.
Soekamto, H. 2001. Peranan Strategi Pembelajaran yang Menekankan pada Aktivitas Siswa dalam Meningkatkan Minat dan Prestasi Siswa Mata Pelajaran IPS-Geografi. Jurnal Pendidikan Dasar dan Menengah. Vo1.3 No. 9, 10
Winkel, 1984. Psikologi Pendidikan dan Evaluasi Belajar. Jakarta: Gramedia
Zuriah, N. 2003. Penelitian Tidakan dalam Bidang Pendidikan dan Sosial. Edisi Pertama. Malang: Bayu Media Publishing
Thank you for visited me, Have a question ? Contact on : youremail@gmail.com.
Please leave your comment below. Thank you and hope you enjoyed...
Please leave your comment below. Thank you and hope you enjoyed...
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Daftar Isi
Popular Posts
-
Dalam konteks pembangunan modern saat ini, terutama di negara-negara yang sedang berkembang, kependudukan dan pedesaan merupakan dua topik ...
-
Lingkungan merupakan salah satu faktor yang ikut serta menentukan corak pendidikan Islam, yang tidak sedikit pengaruhnya terhadap anak didik...
-
Perkawinan merupakan suatu ikatan yang mempersatukan dua insan yang berlainan jenis antara laki-laki dan perempuan serta menjadikannya hidup...
-
Dalam era globalisasi sekarang ini, tuntutan terhadap kualitas dan relevansi pendidikan semakin tinggi. Hal ini karena kebutuhan terhadap ...
-
Pendekatan peadagogis dan psikologis ini menuntut kepada kita untuk berpandangan bahwa manusia didik adalah makhluk Tuhan yang berada dalam ...
0 komentar:
Posting Komentar