PTK BK 2
Minggu, 24 Oktober 2010
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Pendidikan memegang peranan penting didalam pembangunan suatu bangsa, oleh karena itu keberhasilan dalam pendidikan mempunyai bobot nilai yang tinggi. Keberhasilan ini tidak lepas dari pengembangan dan pembinaan terhadap tenaga pendidik, kurikulum, sarana dan prasarana serta semua implikasi ataupun hasil dari sistem pendidikan.
Proses belajar mengajar adalah proses komunikasi guru dan siswa dalam rangka transfortasi nilai-nilai dan konsep dari mutu materi pelajaran kearah tujuan yang telah ditetapkan.
Proses transfortasi dilakukan oleh berbagai faktor antara lain guru sebagai pengajar dan siswa sebagai pelajar. Kemampuan guru sebagai pengajar merupakan suatu tugas yang kompleks, karena itu dituntut kemampuan personel profesional dan sosial kultural secara terpadu sehingga dituntut penguasaan materi dengan metode yang digunakan.
Tuntutan serta tanggungjawab seorang guru bukan hanya bersifat sebagai seorang penyampai materi saja, akan tetapi seorang guru harus dapat mengatur suatu pengajaran kearah yang lebih kondusif. Pengaturan tersebut dituntut karena keberhasilan siswa akan ditentukan oleh faktor intern dan ekstern. Menurut Suhersini Arikunto, sebagai faktor intern psikologi adalah kelelahan, suasana hati motivasi dan minat serta kebiasaan belajar.
Salah satu faktor psikologis yang ingin penulis ketengahkan dalam penulisan ilmiah ini adalah sikap minat siswa SLTPN I Jombang terhadap mata pelajaran bimbingan dan konseling serta peranan guru BK dalam mengatasi kesulitan belajar siswa.
Sikap siswa terhadap mata pelajaran bimbingan dan konseling adalah kecenderungan siswa SLTPN I Jombang menyukai atau tidak menyukai, membutuhkan atau tidak membutuhkan mata pelajaran bimbingan dan konseling tersebut.
Sedangkan minat siswa terhadap mata pelajaran bimbingan dan konseling adalah suatu perangkat mental yang terdiri dari gabungan perasaan, harapan, pendirian prasangka, rasa takut dan kecendrungan lain yang mengarahkan individu kepada suatu pilihan tertentu dalam hal ini adalah mata pelajaran bimbingan dan konseling.
Jadi minat kemampuan merupakan salah satu unsur penting dalam menapai tujuan belajar seseorang terhadap keberhasilan belajarnya karena minat yang dapat menunjang belajar adalah minat kepada bahan atau mata pelajaran dan kepada guru yang mengajarnya.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka masalah dapat dirumuskan sebagai berikut :
“ Adakah minat siswa SLTPN 1 Jombang terhadap mata pelajaran Bimbingan Konseling serta seberapa besar minat siswa pada mata pelajaran tersebut? “
1.3 Tujuan Penelitian
Dalam suatu penelitian tujuan dan sasaran yang jelas sangat diperlukan, karena hal ini akan dapat menentukan arah tertentu yang dapat di jadikan sebagai pedoman dalam penelitian.
Adapun Tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan karya tulis ilmiah ini adalah:
1. Untuk mengetahui ada atau tidaknya minat siswa SLTPN 1 Jombang terhadap mata pelajaran Bimbingan Konseling.
2. Untuk mengetahui sejauh mana/seberapa besar minat siswa SLTPN 1 Jombang terhadap mata pelajaran Bimbingan Konseling
1.4 Pentingnya Penelitian
Mengingat pentingnya penelitian , maka penulis mengelompokkan menjadi tiga kelompok:
1. Untuk Siswa
a. Melatih membuat karya ilmiah.
b. Membantu siswa dalam mengetahui minat mereka terhadap mata pelajaran BK.
c. Meningkatkan minat belajar siswa terhadap mata pelajaran bimbingan dan konseling
2. Untuk Sekolah /Guru
a. Menambah ilmu pengetahuan di bidang karya tulis.
b. Sebagai studi perbandingan.
c. Dalam rangka mendapatkan pengetahuan baru bagi sekolah terutama dalam hal peningkatan mutu pendidikan, khususnya pendidikan Bimbingan Konseling.
d. Menemukan formula pembelajaran yang efektif terhadap mata pelajaran bimbingan dan konseling
3. Untuk Masyarakat
a. Untuk menambah pengetahuan dalam bidang pendidikan.
b. Sebagai bahan informasi pendidikan.
1.5 Hipotesis Penelitian
Berdasarkan kajian teoritik disajikan hipotesis sebagai berikut :
1. Adakah minat siswa SLTPN 1 Jombang terhadap mata pelajaran Bimbingan Konseling.”
2. Seberapa besar minat siswa SLTPN 1 Jombang terhadap mata pelajaran Bimbingan Konseling.”
BAB II
KAJIAN TEORI
2.1 Hakikat Guru BK
Berbagai ahli bimbingan dan konseling sama pendapatnya tentang sasaran tugas bimbingan yaitu menghindarkan anak bimbingannya dari segala jenis hambatan belajar, baik bersifat psikologis (rohani maupun jasmani) akibat tertimpa oleh penyakit atau disebabkan oleh gangguan dari faktor internal yaitu seperti perasaan, tak dapat memusatkan perhatian (konsentrasi berpikir), ataupun pengaruh dari lingkungan hidup keluarga, masyarakat sekitar seperti pergaulan dan sebagainya.
Disamping itu tugas bimbingan dan konseling juga memberikan bantuan atau pelayanan kepada anak didik yang mengalami kesulitan belajar yang disebabkan oleh faktor internal diatas faktor eksternal (dari luar) seperti faktor lingkungan sekitar dalam berbagai jenis atau bidang kehidupan misalnya ekonomi, sosial, dan kebudayaan.
Sebagai contoh misalnya anak yang baru pindah rumah mengikuti orang tuanya kelingkungan masyarakat baru seperti dari lingkungan masyarakat pedesaan ke masyarakat perkotaan menyebabkan berbagai kesulitan anak untuk melakukan penyesuaian diri dengan lingkungan sekitar yang beraneka macam bentuk dan rupa. Ia dapat menyesuaiakan diri dengan teman-teman sebaya, ia juga belum terbiasa hidup dalam suasana pemukiman yang berdesak-desakan juga tidak mudah untuk mendapatkan kedamaian hati dan konsentrasi belajar yang banyak terganggu oleh keramaian lalu lintas dan sebagainya.
Disamping itu faktor penganggu perasaan lainnya misalkan berupa berkurangnya perhatian orang tua terhadap dirinya akibat mereka terlalu sibuk mencari nafkah guna mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari yang lebih berat dari pada hidup dipedesaan yang serba monogen dan lebih sederhana sikap dan perilakunya, pakaiannya, kendaraanya dan sebagainya.
Faktor-faktor tersebut menjadi sumber penyebab dari tekanan perasaan anak didik yang memerlukan bantuan dan pelayanan dari pembimbing dan konseling agar tidak berlarut-larut mempengaruhi sikap, perasaan anak didik tersebut yang akan menganggu kosentrasi belajar mereka.
Secara terperinci dan lugas dapat diuraikan tugas-tugas dari konselor diantaranya, yaitu :
1. Memberikan konseling pada anak didiknya
2. Melaksanakan konsultasi dengan para orang tua siswa dengan administrator tentang bagaimana seharusnya mereka berbuat terhadap anaknya.
3. Mempelajari fakta-fakta populasi siswa yang mengalami perubahan (bertambah atau berkurang) dan menginterprestasikan tentang segala temuan yang didapati oleh pimpinan sekolah.
4. Melakukan koordinasi sumber-sumber daya yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan konseling didalam atau diantara sekolah dengan masyarakat.
Jadi jelaslah sudah bahwa tugas seseorang konselor mempunyai sasaran luas yang tidak terbats pada pemberian pelasyanan kepada anak didik semata melainkan mencakup pula tugas konseling yang mempunyai sasaran pada penyadaran dan pengertian orang tua siswa dan guru sehingga dapat terjalin hubungan antara diring selaku konselor dengan orang tua, anak didik, guru dan organisasi siswa intra sekolah, serta sumber-sumber konseling lainnya dapat berjalan dengan lancar.
Namun dengan demikian tugas pokok seorang konselor pada umumnya adalah terletak pada kegiatan pelayanan terencana terhadap anak didiknya untuk memecahkan problema pribadinya yang menghambat kelancaran proses belajar mengajar di sekolah, baik karena pengaruh internal maupun eksternal.
Jika dikaitkan dengan perubahan sosial yang serba cepat pada era ilmu dan teknologi modern saat ini dan yang akan datang, maka tugas bimbingan dan konseling tersebut amat besar peranannya. Oleh karena itu, sasaran utama dari tugas konseling lebih ditekankan pada upaya memberikan motivasi dan persuasi (mendorong dan meyakinkan) kepada anak didiknya bahwa kehidupan masa mendatang sangat memerlukan kemampuan bakat dan pembawaan yang positif yang harus dikembangkan sendiri oleh mereka, disamping kemampuan bakat dan pembawaan yang positif yang harus kembangkan sendiri oleh mereka. Sikap dan perasaan anak didik harus dipertegas dalam menghadapi segala perubahan sosial tersebut merupakan potensi psikologis yang dapat memperlancar proses pencapaian tujuan belajar yang diharapkan oleh mereka.
2.2 Peranan Guru BK
Guru mempunyai peranan dan kedudukan, kunci dalam keseluruhan proses pendidikan terutama dalam pendidikan formal, bahkan dalam keseluruhan pembangunan masyarakat pada umumnya.
Dalam hubungannya dengan peranan guru, Erick Hoyle yang dikutip oleh Rachman Natawidjaya (1988 : 33) mengemukakan seperangkat guru adalah :
1. Wakil Masyarakat (termasuk pandangan moralnya)
2. Hakim (memberi nilai)
3. Sumber (Proses pengetahuan dan keterampilan)
4. Penolong (memberi bimbingan bagi kesulitan siswa)
5. Pelerai (menyelesaikan perselisihan antara siswa)
6. Detektif (menetukan pelanggar aturan)
7. Obyek identifikasi bagi siswa
8. Penawar kecemasan (membantu siswa untuk memiliki kepercayaan pada diri sendiri.
9. Penunjang kekuatan ego(membantu siswa mengendalikan hawa nafsu)
10. Pemimipin kelompok (membantu iklim kelompok)
11. Pengganti orang tua
12. Sasaran kemarahan siswa (bertindak sebagai obyek agresif yang timbul dari frustasi yang diciptakan oleh orang dewasa)
13. Teman dan kepercayaan (membantu hubungan antara yang hangat dengan anak saling mempercayai)
Kutipan di atas menunjukan bahwa sebagian besar peranan guru itu merupakan hubungan antar pribadi, ini berarti pula bahwa belajar mengajar bukan semata-mata merupakan interaksional tetapi banyak sekali efek pengiring disamping efek interaksional yang terekam oleh siswa pada waktu terjadi interaksi belajar mengajar, jadi sambil guru itu membimbing dalam proses belajar mengajar.
Peran bimbingan dalam proses belajar mengajar itu merupakan salah satu kompetensi guru yang terpadu sebagai penyesuaian dengan interaksional yang menyentuh dalam karakteristik siswa dalam suasana belajar mengajar.
Keseluruhan kompetensi guru tampak dalam perilaku guru yang bersangkutan. Perilaku yang nyata itu didukung oleh unsur sebagai berikut:
1. Penguasaan bahan pelajaran yang akan disajikan dalam proses belajar mengajar.
2. Penguasaan dan penghayatan landasan profesi guru yang meliputi penguasaan dan penghayatan mengenai filsafat, dasar pendidikan, dan landasan pemahaman individu anak didiknya.
3. Penguasaan dan pemanfaatan proses yang diperlukan untuk menyajikan bahan pengajaran secara tepat. Unsur ini berkaitan dengan metodologi pengajaran
4. Penyesuaian dan interaksional yaitu kemampuan untuk menyesuaikan diri terhadap kemapuan serta keadaan siswa dan situasi imteraksi belajar mengajar.
5. Kepribadian yang memperlihatkan sikap dan perasaan dari seorang guru.
Penyesuaian perilaku guru terhadap situasi khusus pada proses belajar mengajar adalah sangat penting untuk memperoleh prestasi pada diri siswa sesuai dengan yang diinginkan. Dalam hal ini ada tiga faktor situasi yang dapat mempengaruhi penampilan dan efektifitas guru yaitu :
1. Karakteristik siswa, termasuk hal-hal seperti sikap, minat, motivasi, semangat dan prestasi pada waktu yang lalu.
2. Karakteristik kepala sekolah, termasuk sikap dan orientasi terhadap perubahan, kemampuan, dan minat untuk membantu guru, kemampuan dalam hubungan manusia dalam berorganisasi dan gaya kepemimpinan serta cara mengambil keputusan.
3. Karakteristik teman sejawat, yaitu guru-guru lain disekolah yang bersangkutan.
Mengakar bukan hanya melimpahkan ilmu pengetahuan kepada siswa, tetapi juga merupakan proses interaksi manusia yang mendalam guna mengembangkan kedewasaan siswa.
Keberhasilan belajar siswa akan lebih memadai jika guru menerapkan peran bimbingan pada waktu mengajar, yaitu sebagai fasilitator bagi perkembangan kepribadian siswanya serta upaya bimbingan lain dalam bentuk membimbing siswa menentukan tujuan yang hendak dicapai hingga memperoleh prestasi yang maksimal.
Guru di kelas memiliki banyak kesempatan dalam memperoleh informasi dan wawasan tentang siswa, jadi tetaplah peran itu diperlukan setiap saat bagi siswa.
Dari uraian di atas dapat dilihat bahwa peranan guru mengemban tugas itu sangat berat tetapi mulia, oleh karena itu perilaku dan akhlak guru tersebut akan berpengaruh terhadap siswa, bagi anak didik kecil, guru adalah teladan dalam pertumbuhan. Dengan memiliki kepribadian yang baik dari guru itu sendiri maka ia akan lebih mudah dalam mencapai tujuannya.
Dalam hubungannya guru-guru yang berkepribadian yang baik. Nasution (1986 : 12) mengatakan bahwa guru yang baik ialah :
1. Memahami dan menghormati siswa
2. Menghormati bahan pelajaran
3. Menyesuaikan metoda mengajar dengan bahan pelajaran
4. Menyesuaikan pelajaran dengan kesanggupan individu
5. Mengaktifkan siswa dalam hal belajar
6. Memberikan pengertian bukan hanya kata-kata semata
7. Menghubungkan pelajaran dengan kebutuhan siswa
8. Mempunyai tujuan tertentu pada tiap-tiap pelajaran yang diberikannya
9. Guru jangan oleh suatu kelompok
10. Guru tidak menyampaikan pengetahuannya saja, melainkan perkembangan para siswa
Dengan demikian mengajar itu merupakan suatu aktifitas yang komplek dan tidak mudah yang memerlukan pengetahuan tentang bagaimana tata cara belajar mengajar yang baik dalam batasan tertentu. Oleh karena itu, setiap guru atau calon guru harus menetapkan untuk dirinya mengenai syarat apakah yang harus dimiliki oleh seorang guru yang baik sehingga jelas baginya kearah manakah ia harus membentuk dirinya.
Tugas Pembimbing/Guru BK adalah sangat banyak dan rumit karena sasarannya adalah anak didik yang sedang tumbuh dan berkembang. Pertumbuhan mengandung pengertian perubahan-perubahan yang berhubungan dengan jasmani mnusia, sedang berkembang mengandung arti perubahan-perubahan yang berhubungan dengan hidup kejiwaan manusia.
Secara terperinci dan lugas dapat diuraikan tugas-tugas dari konselor diantaranya, yaitu :
1. Memberikan konseling pada anak didiknya
2. Melaksanakan konsultasi dengan para orang tua siswa dengan administrator tentang bagaimana seharusnya mereka berbuat terhadap anaknya.
3. Mempelajari fakta-fakta populasi siswa yang mengalami perubahan (bertambah atau berkurang) dan menginterprestasikan tentang segala temuan yang didapati oleh pimpinan sekolah.
4. Melakukan koordinasi sumber-sumber daya yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan konseling didalam atau diantara sekolah dengan masyarakat.
Namun dengan demikian tugas pokok seorang konselor pada umumnya adalah terletak pada kegiatan pelayanan terencana terhadap anak didiknya untuk memecahkan problema pribadinya yang menghambat kelancaran proses belajar mengajar di sekolah, baik karena pengaruh internal maupun eksternal.
2.3 Sasaran Psikologis Kegiatan Bimbingan dan Konseling
Mengenal Proses Perkembangan Individual Anak Didik
Tugas pembimbing adalah sangat banyak dan rumit karena sasarannya adalah anak didik yang sedang tumbuh dan berkembang. Pertumbuhan mengandung pengertian perubahan-perubahan yang berhubungan dengan jasmani mnusia, sedang berkembang mengandung arti perubahan-perubahan yang berhubungan dengan hidup kejiwaan manusia.
Perkembangan dan pertumbuhan manusia sejak dini dipengaruhi oleh faktor-faktor internal yang berupa potensi-potensi psikologis yaitu bakat, keturunan, dorongan-dorongan nafsu dan naluri (instink) serta dorongan-dorongan lain yang mengandung kekuatan bertumbuh dan berkembang di satu sisi, disisi lain faktor-faktor eksternal (dari luar) yang beraneka ragam yaitu pengaruh lingkungan sekitar yang berupa alamiah, sosial, kultural, pendidikan dan sebagainya.
Para pembimbing pada saat ini harus bersikap optimis dalam melaksanakan tugas membimbing dan mengarahkan potensi pertumbuhan dan perkembangan anak didik sesuai dengan bakat dan kemampuannya melalui proses yang tepat arah. Oleh karena itu, proses pertumbuhan dan perkembangan anak didik berlangsung berdaerkan hukum-hukum yang bervariasi diantaranya menurut hukum kesatuan organis dimana anak berkembang secara integral dalam fungsi-fungsi kejiwaanya meliputi fungsi pikiran (kecerdasan), fungsi ingatan, fungsi kemauan, perasaan pengamatan indera dan fungsi nafsu. Diantaranya ada yang menurut hukum tempo, yakni berkembangan yang bergelombang sehingga pada saat tertentu anak mengalami kepekaan dalam fungsi pikiran atau nafsu-nafsunya. Pada saat yang lain lagi anak mengalami perkembangan menurut hukum konvergensi yaitu perkembangan yang beerdasarkan keterpaduan antara fungsi-fungsi kejiwaan dengan fungsi jasmaniahnya atau perkembangan yang bersifat dialogis antara faktor dasar dan ajar antara faktor pembawaan dengan faktor lingkungan.
2.4 Minat Belajar Siswa
2.4.1 Pengertian Minat Belajar
Menurut Poerwardarmita (1985 : 650), minat berati kesukaan (kecendrungan hati) kepada sesuatu.
Secara umum, minat adalah kecendrungan jiwa kearah sesuatu karena itu mempunyai arti bagi kita. Jadi, minat bukan kecendrungan yang dipaksa (Ahmad D Marimba 1986 : 88). Sedangkan Mappirre menyatakan bahwa “ Minat adalah seperangkat mental yang terdiri dari suatu campuran dan perasaan, harapan, pendidikan, prasangka, rasa takut, atau kecendrungan-kecendrungan lain yang mengakibatkan indivudu pada suatu pilihan tertentu “. (Andi Mappiere 1982 : 88).
Dari kedua pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa minat merupakan kecendrungan suka atau senag terhadap suatu obyek atau pekerjaan. Dalam hal ini, Elizabeth B. Hurlock juga mengemukakan tentang pegertian minat sebagai berikut : “ Minat adalah merupakan sumber motivasi yang nendorong orang untuk melakukan apa saja yang mereka inginkan bila mereka bebas memilih. Bila mereka melihat bahwa sesuatu menguntungkan, mereka akan merasa berminat “. (Elizabeth B. Hurlock, jilid 2 : 114).
Berdasarkan pada kutipan di atas, minat merupakan faktor individu artinya bahwa seseorang membutuhkan sesuatu bila hal itu menguntungkan pada dirinya dan merasa senang karena sesuatu itu. Wayan Nurkancana (1986 : 230) mengemukakan bahwa minat yang timbul dari kebutuhan anak-anak akan merupakan faktor pendorong bagi anak dalam menjalankan tugasnya. Misalnya seorang anak yang merasa sedang berkembang pada segi fisiknya, maka ia akan melakukan aktivitas-aktivitas fisik seperti sepak bola, senam dan sebagainya yang menurutnya dapat menunjang perkembangan tubuh.
Begitu pula minat pada belajar, apabila perkembangan tubuh merupakan kebutuhan dan anak itu merasa senang dengan pelajaran tersebut maka akan timbul minat pada pelajaran itu. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Wayang Nurkancana (1986 : 230) mengemukakan bahwa minat yang timbul dari kebutuhan anak-anak akan mendorong bagi anak tersebut dalam menjalankan tugasnya. Disinilah pentingnya minat sebagai faktor psikologis yang penting bagi anak didik dalam pendidikan. Senada dengan ungkapan di atas, Slameto (1988 : 58) juga mengemukakan bahwa minat adalah kecendrungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan. Kegiatan itu bila dinikmati akan diperhatikan akan diperhatikan terus menerus dengan disertai rasa senang.
2.4.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi minat belajar
Minat adalah suatu rasa lebih suka atau rasa keterkaitan pada suatu hal atau aktivitas tanpa ada yang menyuruh. Minat pada dasarnya adalah penerimaan akan suatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu yang ada diluar diri, semakin dekat hubungan tersebut maka semakin besar pula minat seseorang.
Berhasilnya seseorang di dalam belajar atau aktivitas ditunjang dengan adanya minat yang kuat, tanpa adanya minat yang kuat maka hasil yang ingin dicapai kurang memuaskan. Akan tetapi bukanlah sesuatu upaya untuk membangkitkan minat seseorang di dalam belajar antara lain dengan bimbingan. Dalam hal ini Ngalim Purwanto mengemukakan.
“ Bimbingan adalah bantuan yang diberikan kepada seseorang dalam usaha memecahkan kesukaran-kesukaran yang dialaminya. Bantu tersebut hendaknya yang dapat menyadarkan orang itu akan pribadinya sendiri (bakat dan minatnya, kecakapannya dan kemampuannya dan sebagainya) sehingga dengan demikian sanggup memecahkan kesukaran-kesukaran yang dihadapi dengan sendirinya “. (1988 : 187).
Oleh karena itu, bimbingan dapat dipergunakan sebagai alat untuk mengerahkan seseorang atau kelompok orang pada tujuan yang diinginkan, terutama bimbingan anak-anak dalam segi pendidikan untuk membangkitkan minat belajar siswa salah satu kaintannya dengan bahan pelajaran. Kurt Singer (1987 : 92) mengemukakan bahwa upaya harus memanfaatkan setiap kemungkinan yang ada untuk menonjolkan adanya pertalian yang penting antara pelajaran dan kehidupan siswa pada saat itu juga, ini dapat dicapai dengan jalan memberikan informasi pada siswa mengenai hubungan antara suatu bahan pelajaran yang telah diberikan dengan menjelaskan kegunaan bagi siswa dimasa yang akan datang. Oleh karena itu, untuk membangkitkan minat belajar siswa guru itu harus bertindak bijaksana.
Kegiatan belajar akan tercipta apabila minat belajar yang ada di dalam diri peserta didik menjadi motivasi pada arah tingkah laku belajar. Membangkitkan minat terhadap sesuatu pada dasarnya adalah membantu siswa melihat bagaimana hubungan antara materi yang diharapkan untuk dipelajarinya dengan dirinya sendiri sebagai individu. Proses ini berarti menunjukan pada siswa bagaiamana pengetahuan atau kecakapan tertentu mempengaruhi dirinya, melayani tujuan-tujuan memuaskan kebutuhannya. Apabila siswa menyadari bahwa pelajaran merupakan alat untuk mencapai beberapa tujuan yang dianggapnya penting, dan bila siswa tersebut dari hasil pengalaman belajarnya akan membawa kemajuan pada dirinya, kemungkinan besar ia akan berminat dan bermotivasi untuk mempelajarinya.
Bila upaya-upaya di atas tidak berhasil, pengajar dapat memakai insentif dalam usaha mencapai tujuan pelajaran. Insentif merupakan alat yang dipakai untuk membujuk seseorang agar melakukan sesuatu yang tidak mau dilakukannya dengan baik. Diharapkan pemberian insentif akan membangkitakan motivasi siswa dan mungkin minat terhadap bahan pelajaran yang diajarkan akan muncul.
Studi-studi eksperimental menunjukan bahwa siswa-siswa yang secara teratur dan sistematis diberi hadiah karena telah bekerja dengan baik atau berprestasi, cenderung akan bekerja lebih baik lagi dari pada siswa-siswa yang dimarahi atau dikritik karena pekerjaannya yang buruk atau karena tidak ada kemajuan (Slameto, 1988 : 184).
Pada kenyataannya, menghukum siswa karena hasil kerjanya yang buruk tidak terbukti efektif, bahkan hukuman yang terlalu kuat dalam menghambat kegiatan belajar. Akan tetapi, hukumn yang ringan masih lebih baik dari pada tidak ada perhatian sama sekali. Hendaknya pengajar bertindak bijaksana dalam menggunakan insentif apapun yang dipakai perlu disusaikan dengan diri siswa.
Dari uraian singkat diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa minat dapat dibangkitkan atau ditumbuhkan dengan cara : 1. membangkitkan suatu kebutuhan yaitu kebutuhan untuk menghargai karya atau prestasi, memberi penghargaan, 2. Menghubungkan pengalaman yang lalu dalam menumbuhkan motivasi baru kearah minat, 3. memberi kesempatan untuk mendapatkan hasil yang baik atau mengetahui sukses yang diperoleh individu, sebab dengan rasa sukse yang diperoleh individu akan menimbulkan kepuasan.
Selain yang dikemukakan di atas, sikap yang diperlihatkan seseorang terhadap siswanya, guru yang tidak tertarik dan menaruh perhatian terhadap sesuatu serta tidak disukai oleh anak didiknya akan sukar untuk merangsang timbulnya minat (Kurt Singer, 1987 : 94). Suatu minat dapat diekspresikan melalui suatu pernyataan yang menunjukan bahwa siswa lebih menyukai suatu hal dari pada yang lainnya, dan dapat pula dimanifestasikan melaui partisipasi dalam suatu aktivitas. Siswa yang memiliki minat terhadap subyek tertentu cenderung untuk memberikan perhatiannya yang lebih besar terhadap subyek tersebut.
2.4.3 Manifestasi Minat Dalam Perbuatan Belajar
Sebagaimana telah diungkapkan terlebih dahulu, pernyataan minat seseorang atau siswa dapat dimanifestasikan kepada suatu aktifitas belajar yang merupakan suatu aktivitas psikologis, artinya suatu proses yang terjadi didalam individu merupakan suatu proses didalam pusat syaraf seseorang sebagai interksi dengan lingkungan. Pengertian belajar sebagai proses yang bersifat gejala psikologis ini sebagaimana dikemukakan oleh S. Nasution (1986 : 38) bahwa belajar adalah pembentukan S-R Bond atau hubungan tertentu dalam sistem urat syaraf sebagai hasil respon-respon terhadap stimulus.
Oleh karena itu, sifat dari aktifitas belajar merupakan aktifitas yang bersifat psikologis, maka segala sesuatu yang berkenaan dengan gejala-gejala psikologis lainnya berkaitan dengan belajar harus pula memperoleh perhatian dari guru. Salah satu gejala psikologis yang erat hubungannya dengan belajar tersebut diantaranya adalah minat belajar. Slameto (1987 : 58) meletakan minat belajar utam yang mempengaruhi keberhasilan dan keaktifan belajar siswa. William James yang dikutip oleh Moh. Uzar Usman (1990 : 22 ) melihat bahwa minat siswa merupakan faktor utama yang menetukan derajat keaktifan belajar siswa. Salam hal ini Pasaribu dan Simanjuntak menegaskan kepentingan minat belajar dalam kegiatan belajar seseorang atas dasar teori psikologi Gestalt adalah sebagai berikut :
“ Belajar lebih berhasil bila berhubungan dengan minat, keinginan dan tujuan, ini tercapai bila pelajaran langsung bertalian dengan apa yang diperlukan siswa dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu guru hendaknya dapat menimbulkan minat siswa “. (1983 : 75).
Dengan demikian, minat belajar merupakan salah satu faktor penting yang dapat mempengaruhi keberhasilan siswa menyenangi aktifitas belajar dengan kesungguhan hati, kalaupun tidak ada yang menyuruh. Akan lebih baik jika minat dipelihara dan dijaga dari adanya pengaruh luar, dibimbing dan dikembangkan menurut tujuan yang hendaknya dicapai, melainkan diperoleh kemudian. Minat terhadap sesuatu dipelajari dan dipengaruhi belajar selanjutnya serta mempengaruhi minat baru. Minat pada dasarnya adalah penerimaan akan sesuatu yang ada hubungannya antara diri sendiri dengan sesuatu diluar lingkungan tempat dimana kita tinggal yang dapat mempengaruhi penghuninya. Lingkungan disini yang inginpenulis tegaskan yaitu lingkungan proses belajar mengajar yang dilakukan guru dan siswa didalam kelas bertujuan untuk menciptakan kegiatan siswa belajar. Oleh karena itu, peranan minat belajar didlam proses belajar mengajar yang dilakukan guru dan siswa di dalam kelas bertujuan untuk menciptakan kegiatan siswa yang belajar. Oleh karena itu, peranan minat didalam proses belajar mengajar adalah sangat menentukan terhadap kelancaran dan proses PBM. Siswa yang memiliki minat belajar yang tinggi akan lebih dalam melakukan kegiatan belajar dikelas. Hal ini tentunya akan memudahkan guru dalam menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar (KBM) dapat berlangsung dengan efektif dan efisien, seorang guru hendaknya dapat membangkitkan minat belajar siswa.
Suatu minat dapat diekspresikan oleh suatu pernyataan yang menunjukan bahwa siswa lebih menyukai suatu hal pada hal lainnya, dapat juga dimanifestasikan melalui partisipasi dalam suatu aktifitas. Siswa yang memiliki minat terhadap subyek tertentu cenderung untuk memberikan perhatian yang lebih besar terhadap subyek tersebut (Slameto, 1988 :182).
Dari beberapa kriteria yang menunjukan akan adanya minat seperti yang dikemukakan oleh Slamet di atas, maka untuk kepentingan penelitian mengenai upaya guru agama dalam meningkatkan minat ini, penulis menggunakan delapan indikator yang dianggap mewakilinya. Kedelapan indikator itu dituangkan ke dalam 30 item angket yang disebar, data minat disewa, upaya pengadaan buku perpustakaan, upaya guru-guru menyajikan bahan peragaan, upaya pemberian PR secara berkala, frekwensi kelompok ditingkatkan, mengisi waktu kosong, dan pendalaman materi.
Seorang siswa yang memilki minat belajar yang tinggi di dalam bidang studi agama akan terlihat salah satu aktivitasnya, yaitu frekuensi kehadiran tinggi, khususnya jika ada pelajaran agama. Hal ini dapat dimengerti, sebab dalam diri siswa itu telah terdapat hubungan-hubungan yang kuat antara dirinya dengan pelajaran tersebut, siswa yang memiliki minat pada pelajaran agama senantiasa merasakan akan adanya kebutuhan dari dalam dirinya terhadap pelajaran agama sehingga diakan selalu hadir dalam setiap pelajaran agama, juga minat belajar siswa dalam bidang studi agama akan akan ditunjukan dengan tingklat perhatian yang tinggi. Hal ini dapat dilihat dari tingkah laku siswa tersebut didalam kegiatan belajar mengajar dikelas. Seorang siswa yang memiliki minat yang tinggi terhadap pelajarantentunya akan merasa sayang untuk tidak memanfaatkan waktu sebaik-baiknya dalam belajar dikelas.
Pengamatan yang dilakukan terhadap siswa dalam proses belajar mengajar, baik selama mengikuti dikelas ataupun kegiatan diluar kelas. Hal ini merupakan salah satu indikator yang dapat mengukur minat belajar yang dimiliki oleh siswa tersebut, jadi dalam kegiatan belajar ini segenap panca inderanya bekerja secara optimal dalam upaya mengenal materi-materi pelajaran, sehingga ia akan memperoleh informasi sebanyak-banyaknya mengenai pelajaran tersebut dan akan senantiasa bertanya atau apapun sering mengemukakan pendapatnya pada setiap kegiatan belajar mengajar berlangsung.
Selain dari indikator-indikator di atas, tanggapan terhadap belajar mengajar khususnya pada materi bidang studi agama merupakan salah satu indikator yang menunjukan akan ada perilaku pola belajar siswa. Jadi yang dimaksud dengan tanggapan disini adalah gambaran bekas yang tertinggal dalam ingatan setelah dilakukan pengamatan. Tanggapan ini sangat dapat mempengaruhi terhadap perilaku murid atau siswa pada saat belajar.
Adanya fantasi setelah siswa mengikuti kegiatan belajar mengajar merupakan indikator penting lain yang dapat menunjukan akan keberadaan minat yang dimiliki oleh siswa. Fantasi adalah kemampuan untuk membentuk tangapan-tanggapan baru berdasarkan atas tanggapan yang ada atau dapat dikatakan sebagai salah satu fungsi yang memungkinkan siswa untuk berorientasi dari alam imajiner. (Sardiman, A.M, 1992 : 45). Dengan fantasi maka dalam belajar akan memiliki wawasan yang lebih longgar karena didik untuk memahami diori, memahami kebutuhan diri sehingga dapat memahami orang lain.
Terakhir, minat belajar pada bidang studi agama akan ditujnjukan oleh interesnya terhadap pelajaran agama. Siswa yang memiliki minat belajar agama menjadikan siswa memiliki pengalaman selama mempelajari dan mengikuti kegiatan belajar mengajar.
2.5 Prestasi Belajar Siswa
2.5.1 Pengertian Prestasi Belajar Siswa
WJS. Poerwadarminta (1984 : 768) mengemukakan bahwa prestasi adalah hasil yang telah dikerjakan oleh seseorang. Sedangkan yang dimaksud dengan hasil belajar menurut Moh. Surya (1979 : 33) adalah bahwa jika seseorang belajar sesuatu sebagai hasilnya ia akan mengalami perubahan tingkah laku secara menyeluruh dalam sikap, kebiasan, keterampilan, pengetahuan dan sebagainya.
Dengan demikian yang dimaksud dengan belajar agama adalah hasil yang telah dicapai atau diperoleh oleh seseorang atau siswa dalam suatu proses kegiatan yang dilaksanakan secara berkesinambungan sehingga didapatkan adanya perubahan tingkah laku secara menyeluruh dalam sikap, kebiasaan, keterampilan, pengetahuan dan sebagainya dalam bidang agama.
2.5.2 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Proses dan Hasil Belajar
Keberhasilan seorang siswa banyak tergantung kepada faktor-faktor yang mempengaruhi nya. Begitu juga halnya dengan prestasi belajar yang dicapai siswa, faktor-faktor yang mempengaruhi proses dan hasil belajar itu dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu faktor yang berasal dari luar diri siswa. Dibawah ini penulis sebutkan satu persatu, sesuai dengan pendapat Ngalim Purwanto dalam bentuk skema sebagai berikut :
Belajar adalah merupakan suatu proses, sudah barang tentu harus ada yang diproses (masukan atau input) dari hasil proses tersebut. Jadi dalam hal ini penulis dapat menganalisis kegiatan belajat itu dengan pendekatan analisis sistem.
Sistem adalah komponen-komponen yang saling berhubungan untuk membentuk suatu tujuan. Dengan demikian pendekatan sistem ini sekaligus kita dapat melihat adanya berbagai faktor yang dapat mempengaruhi proses dan hasil belajar. Dengan pendekatan sistem ini Syamsudin Makmun (modul 3, unit-1,1990 : 12) menggambarkan
Dengan melihat bagan tersebut, nampak bahwa secara sistematis ketiga komponen utama dari PBM senantiasa mempengaruhi atas performance dan out putnya.
Hasil pendidikan dapat dianggap tinggi mutunya apabila kemampuan pengetahuan dan sikap yang dimiliki para lulusan berguna bagi perkembangan selanjutnya baik pada lembaga yang lebih tinggi (bagi yang melanjutkan sekolah) maupun dimasyarakat, sedangkan mutu pendidikan itu sendiri baru mungkin kita capai apabila proses belajar yang kita selenggarakan dikelas benar-benar efektif dan fungsional bagi pencapain kemampuan, pengetahuan dan sikap yang dimaksud.
Disisi lain, Moh. Ali (1987 :42-46) mengemukakan bahwa perwujudan hasil-hasil belajar itu dapat dilihat dalam aspek damain kognitf yang meliputi pengetahuan , penterapan, analisis, sintesis dan evaluasi, selain itu perwujudan hasil belajar tersebut dapat dilihat dalam aspek damain efektif yang meliputi kemauan menerima, kemauan untuk menanggapi, berkeyakinan, penerapan karya, ketekunan, dan ketelitian kemudian yang terakhir adalah perwujudan hasil-hasil belajar itu dapat dilihat dalam perwujudan psikomotor yang meliputi sikap, kesiapan melakukan pekerjaan atau kegiatan mekanisme, kemahiran, respon terbimbing serta adaptasi.
Dalam hal yang sama, Abin Syamsudin Makimun (Modul 3 until 1990 : 87) menyatakan bahwa : “ Perubahan hasil belajar itu mungkin dapat dimanifestasikan dalam wujud (1) pertambahan materi pengetahuan yang berupa fakta, informasi, prinsif, hukuman, kaidah, prosedur, pola kerja, atau teori sistem nilai-nilai dan sebagainya, (2) Penguasaan pola perilaku kognitif (pengamatan) proses berpikir, mengingat atau mengenal kembali perilaku efektif (sikap-sikap apresiasi, penghayatan dan sebagainya), prilaku psikomotor keterampilan-keterampilan psikomotorik termasuk yang bersifat ekspresit, (3) Perubahan dalam sifat-sifat kepribadian yang baik yang tangible maupun yang intangible “.
Dari beberapa pendapat di atas, maka pada kesimpulannya bahwa perwujudan dan hasil belajar itu dapat dilihat pada tiga aspek pokok, yakni kognitif, efektif, dan psikomotorik.
Keberhasilan belajar seseorang juga dapat dilihat dalam prubahan-perubahan pada dirinya, baik dalam perilaku maupun pribadinya sehari-hari seperti dinyatakan oleh Abin Syamsudin Makmun (modul , unit 1 1990 : 5) bahwa seorang siswa dapat dikatan belajarnya berhasil apabila ia telah mengalami proses belajar tersebut pada perilaku dan pribadinya seperti apa yang telah diharapkan oleh gurunya.
2.5.3 Hubungan Minat Dengan Prestasi Belajar Siswa
Berhasilnya seseorang dalam belajar atau akitivitas ditunjang dengan minat yang kuat, tanpa minat maka hasil yang dicapai tidak akan sesuai dengan apa yang diharapkan. Upaya untuk membangkitkan minat seseorang dalam belajar antara lain dengan melalui bimbingan yakni dengan menjelaskan hal-hal yang menarik dan berguna bagi kehidupan serta kaitannya dengan bahan pelajaran.
Salah satu psikologis yang erat hubungannya dengan belajar tersebut diantaranya adalah minat belajar, Slameto (1987 : 58) meletakan minat belajar sebagai salah satu faktor utama yang mempengaruhi terhadap keberhasilan atau keaktifan belajar siswa.
Bila seseorang berminat pada sesuatu kegiatan atau pekerjaan, maka dia akan merasa senang atau suka melakukan tindakan-tindakan yang berhubungan dengan sesuatu yang menarik minatnya itu. Kedudukan minat sebagai salah satu faktor yang turut memberikan sumbangan terhadap hasil belajar yang dicapai, bila dikaitkan proses belajar mengajar sebagai suatu keseluruhan proses maka dapat dikatakan bahwa siswa akan menimbulkan minat dalam diri siswa untuk memperoleh kecakapan sikap atau keterampilan, baru kemudian siswa akan melibatkan minatnya dalam kegiatan belajar mengajar.
Sesuatu hal itu menarik minatnya apabila hal-hal tersebut merupakan sarana yang dapat menunjang tercapainya tujuan yang ditentukan sebelumnya. Dengan demikian, bila seseorang giat dalam belajar kemungkinan besar pelajarannya itu dapat menunjang atau sesuai dengan apa yang diharapkannya.
Sedangkan prestasi belajar adalah hasil belajar baik dalam bentuk kognitif, efektif dan psikomotorik yang telah dicapai oleh individu dalam bidang studi tertentu. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi prestor baik dari faktor luar maupun dari faktor dalam yang termasuk faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa.
Dengan adanya minat pada diri seseorang terhadap sesuatu kegiatan atau pekerjaan, kemungkinan dia akan dapat mencapai apa yang menjadi tujuan baik berupa suatu kegiatan atau pekerjaan dengan kata lain.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian di laksanakan waktu semester I (Ganjil), pada siswa/siswi kelas II SLTPN 1 Jombang tahun ajaran 2001/2002.
3.2 Populasi dan Sampel
3.2.1 Populasi
Diskripsi populasi merupakan langkah awal dalam pelaksanaan penelitian di lapangan,sehingga akan memudahkan peneliti. Adapun pengertian populasi menurut Sutrisno Hadi adalah sebagai berikut :
“Populasi adalah seluruh penduduk yang dimaksudkan untuk diselidiki disebut populasi atau uni versum. Populasi tersebut sebagai jumlah penduduk atau individu yang paling sedikit mempunyai sifat yang sama”. (Sutrisno Hadi, 1987 : 220 )
Dari uraian tersebut di atas dapat dibatasi individu yang dijadikan populasi yaitu harus individu yang mempunyai sifat yang sama. Berdasarkan kutipan di atas maka sasaran peneliti adalah seluruh siswa kelas II SLTPN 1 Jombang.Populasinya sebanyak 160 siswa. Adapun perinciannya sebagai berikut : Kelas II1 Sebanyak 40 Siswa
Kelas II2 Sebanyak 40 Siswa
Kelas II3 Sebanyak 40 Siswa
Kelas II4 Sebanyak 40 Siswa
Jumlah 160 Siswa
3.2.2 Sampel.
Sebelum dikemukakan tentang sampel yang digunakan dalam penelitian ini, akan dijelaskan pengertian sampel , Menurut Sutrisno Hadi dalam bukunya sebagai berikut :
“Sampel adalah sejumlah penduduk yang jumlahnya kurang dari jumlah populasi”. (Sutrisno Hadi, 1987 : 221).
Jelas bahwa dalam penelitian tidak harus seluruh populasi diselidiki. Jadi boleh sebagian atau kurang dari jumlah populasi.
Karena terbatasnya waktu , biaya, serta tenaga, maka tidak semua populasi yang terdiri dari semua kelas II SLTPN 1 Jombang di jadikan sampel, sehingga dalam penentuan sampel peneliti menggunakan tehnik “Purposiv Sampling “, menurut Sutrisno Hadi ( 1987:226) bahwa dalam Purposiv Sampling pemilihan sekelompok subyek didasarkan atas ciri-ciri atau sifat-sifat tertentu yang dipandang mempunyai sangkut paut yang erat dengan ciri-ciri atau sifat-sifat populasi yang sudah diketahui sebelumnya.
Oleh karena itu dalam menentukan sampel , dari semua populasi kelas II SLTPN 1 Jombang diambil sampel sebesar 25 % dari jumlah populasi, jadi jumlah sampel sebagai berikut :
Kelas II1 = 40 siswa = x 40 = 10 siswa
Kelas II2 = 40 siswa = x 40 = 10 siswa
Kelas II3 = 40 siswa = x 40 = 10 siswa
Kelas II4 = 40 siswa = x 40 = 10 siswa
Jadi sampel keseluruhan sebanyak 40 siswa. Dalam penelitian tersebut penelitian mengambil sebanyak 40 siswa
3.3 Instrumen Penelitian
Dalam penelitian ini digunakan angket secara langsung dengan type tetutup, yang diberikan kepada siswa yang masing-masing 1 item.
Adapun pengembangan instrumen indikator Pertanyaan meliputi :
a. Instrumen indikator tentang BK terdiri dari 1 item pertanyaan.
b. Instrumen indikator tentang manfaat BK terdiri dari 1 item pertanyaan.
Adapun alternatif jawaban yang digunakan dalam instrument indikator tentang BK adalah :
a. Perlu
b. Tidak Perlu
Sedangkan alternatif jawaban yang digunakan dalam instrument indikator tentang manfaat BK adalah :
a. Mengatasi kesulitan Belajar
b. Pemilihan jurusan
c. Perantara dengan Orang Tua
d. Masalah Pribadi
3.4 Pengumpulan Data dan Analisis Data
3.4.1 Pengumpulan Data
Setelah dilakukan penentuan sampel, maka selanjutnya adalah melakukan pengumpulan data. Menurut Sutrisno Hadi (1987 : 67 ) menyatakan :
"Teknik-teknik pengumpulan data apakah menggunakan questionnary, interview, obsevasi biasa, tes, eksperimen atau metode lainnya atau kombinasi dari beberapa metode itu semuanya harus mempunyai dasar yang beralasan".
Metode pengumpulan data yang dipakai dalam penelitian ini adalah angket. Angket atau diistilahkan quesioner dapat dipandang sebagai teknik penelitian yang banyak mempunyai kesamaan dengan wawancara, kecuali dalam pelaksanaannya, pengertian angket banyak dirumuskan oleh pakar terutama yang berkecimpung dalam pendidikan. Di bawah ini peneliti akan kutipkan dari rumusan dalam bukunya. Dewa Kethut Suhardi Sebagai berikut:
Angket atau quesioner adalah seperengkat pertanyaan yang harus di jawab oleh responden yang digunakan untuk mengubah berbagai keterangan yang langsung diberikan oleh responden menjadi data serta dapat pula digunakan untuk mengungkapkan pengalaman-pengalaman yang di alami oleh responden pada masa yang lampau maupun pengalaman-pengalaman yang di alami pada saat ini (Dewa Kethut Suhardi, 1984 : 121)
Dari rumusan di atas dapat ditarik kesimpulan tentang pengetian angket sebagai berikut :
1. Diberikan kepada sejumlah responden untuk dijawab
2. Salah satu teknik pengumpulan data
3. Berisi pertanyaan yang meliputi keadaan diri, pengalaman, pengetahuan baik pengalaman yang telah lalu ataupun penglaman yang sedang di alami
Alasan peneliti menggunakan metode angket ini adalah sebagai berikut :
1. Metode ini bernilai praktis artinya dalam waktu singkat dapat mengumpulkan sejumlah data dari responden
2. Dengan menggunakan metode ini sangat mudah untuk diinterprestasikan hasilnya, sehingga mudah untuk dapat menunjang tujuan penelitian yang dilaksanakan peneliti
3. Responden adalah orang yang mengetahui dan mengerti tentang keadaan dirinya sendiri
4. Jawaban atau keterangan responden dapat dipercaya kebenarannya
5. Responden seluruhnya dapat dipastikan dapat membaca dan menulis
3.4.2 Analisis Data
Sebagai kelanjutan dari pengumpulan data yang sudah diterangkan dimuka, maka langkah berikutnya adalah menganalisa data, sebab walaupun data penelitian sudah terlumpuhkan kemungkinan ias sesat.
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik analisis kualitatif deskriptif sebagai analisis yang utama, dengan mendeskripsikan prosesntase hasil angket yang disebarkan. Menurut Melis dan Hubermen (1994) proses analisis data diskriptif melalui tiga jalur kegiatan yang berlangsung secara berbarengan yaitu (1) reduksi data atau penyederhanaan data (2) paparan ate sajian data (3) penarikan kesimpulan ate verifikasi data. Ketiga alur kegiatan analisis data ini saling terkait dalam penyimpulan hasil penelitian lebih jelasnya digambarkan sebagai berikut :
Penjelasan Gambar :
1. Reduksi Data adalah suatu pemilihan pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabsahan, dan transformasi data mentah atau data kasar yang muncul Dari catatan tertulis di lapangan. Dalam penelitian kualitatif reduksi data berlangsung secara terus menerus selama pengumpulan data masih berlangsung. Hal ini dilakukan oleh peneliti pada kegiatan setiap memperoleh data.
2. Penyajian Data dalam penelitian kualitatif dimaksudkan untuk menyederhanakan informasi yang komplek ke dalam informasi yang sederhana, selektif, serta membantu pemahaman tentang maknanya. Milles dan Huberman (1992) menjelaskan bahwa penyajian data adalah cara yang lebih baik dan utama bagi analisis kualitatif yang valid. Dengan penyajian data maka seorang penganalisis dapat melihat sesuatu yang terjadi, menemukan kesimpulan dan pengambilan tindakan selanjutnya.
3. Verifikasi atau penarika kesimpulan. Mills dan Huberman (1992) menjelaskan bahwa sejak awal pengumpulan data penganalisis sudah mulai bekerjauntuk mencari arti benda-benda, mencatatat keteraturan, pola-pola penjelasan serta bentuk-bentuk yang mungkin terjadi, alur sebab akibat dan proposi rencana-rencana. Setelah reduksi data dan penyajian data selesai selanjutnya diteruskan dalam pembuatan kode-kode pola. Menurut Millers dan Hubermen (1994) kide pola adalah eksplanatori yang mengidentifikasi munculnya tema, sebab yang dicari dalam proses pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, verifikasi data dan kesimpulan. Kesimpulan adalah untuk menentukan pola dan tema. Ketiga alur kegiatan ini saling terkait dalam verifikasi atau penarikan data.
BAB IV
HASIL PENELITIAN
4.1 Sikap dan Minat Siswa Terhadap Mata Pelajaran Bimbingan Konseling
Sikap pada hakikatnya adalah kecendrungan siswa terhadap objek apakah mendukung atau tidak. Berdasarkan penyebaran angket kepada siswa tentang perlu atau tidaknya diadakan mata pelajaran bimbingan dan konseling, sebagian besar siswa SLTPN I Jombang memandang mata pelajaran bimbingan dan konseling sangat diperlukan, hal itu terbukti dari jawaban siswa dimana 80% memandang mata pelajaran bimbingan dan konseling perlu dan 20% menjawab sebaliknya.
Tabel 1
Sikap/Minat Siswa Terhadap Mata Pelajaran Bimbingan dan Konseling
No. urut Keberadaan Mata Pelajaran BK Jumlah Persentase Ket
1. Perlu 32 80 %
2. Tidak Perlu 8 20 %
Jumlah 40 100 %
Sebagian besar siswa memandang bahwa mata pelajaran tersebut sangat diperlukan karena dapat membantu siswa dalam mengatasi kesulitan belajar karena dapat membantu siswa dalam hal memilih jurusan dan lainnya yang menyangkut masalah personal dan keluarga. Hal ini dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
Tabel 2
Manfaat Mata Pelajaran Bimbingan dan Konseling
No. urut Manfaat Mata Pelajaran BK Jumlah Persentase Ket
1. Mengatasi kesulitan belajar 16 40 %
2. Pemilihan jurusan 11 27.5 %
3. Perantara dengan orang tua 8 20 %
4. Masalah pribadi 5 12.5 %
Jumlah 40 100 %
Berdasarkan tabel di atas, diketahui bahwa 40 % siswa memandang bahwa keberadaan mata pelajaran bimbingan dan konseling dapat membantu siswa dalam mengatasi kesulitan belajar, 27,5 % siswa memandang bahwa mata pelajaran bimbingan dan konseling membantu siswa dalam hal pemilihan jurusan terutama jurusan kelas III dan pemilihan jurusan untuk keperguruan tinggi, 20 % guru BK mampu menjadi penengah atau jembatan dengan orang tua dirumah, serta 12,5 % memandang perlu dalam mengatasi masalah pribadi.
Berdasarkan kondisi diatas, jelaslah bahwa sikap siswa SLTPN I Jombang sangat membutuhkan mata pelajaran bimbingan dan konseling, sehingga secara representatif sangat mendukung minat siswa dalam mempelajari mata pelajaran tersebut, hal itu disebabkan karena manfaat yang diperoleh sangat signifikan dengan hakikat siswa belajar di SLTPN I Jombang.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis di atas, dapat penulis simpulkan hal-hal sebagai berikut :
1. Sikap siswa SLTPN I Jombang adalah kecenderungan memandang perlu atau tidak perlu terhadap mata pelajaran bimbingan dan konseling dengan kata lain para siswa berminat terhadap mata pelajaran BK.
2. Berdasarkan data yang telah penulis peroleh, diketahui bahwa secara signifikan siswa SLTPN I Jombang memandang bahwa mata pelajaran bimbingan dan konseling sangat diperlukan. Hal ini terbukti dengan jawaban responden siswa yang mencapai 80 %.Dengan kata lain minat siswa SLTPN 1 terhadap mata pelajaran BK sebesar 80 % dari jumlah keseluruhan siswa.
3. Kebutuhan akan mata pelajaran bimbingan dan konseling dalam hal persepsi siswa SLTPN I Jombang, dikarenakan pelajaran tersebut dapat membantu siswa dalam mengatasi kesulitan belajar siswa (40 %), membantu siswa dalam hal pemilihan jurusan (27,5 %) dan sebagai perantara dengan orang tua (20 %), serta membantu siswa dalam memecahkan masalah pribadi (12,5 %).
4. Minat siswa terhadap mata pelajaran bimbingan dan konseling adalah perangkat mental yang terdiri dari gabungan perasaan, harapan dan pendirian, prasangka, rasa takut dan kecendrungan lain yang mengarahkan siswa kepada mata pelajaran bimbingan dan konseling, baik minat terhadap materinya maupun kepada guru yang mengajar mata pelajaran tersebut.
5. Peranan guru BK dalam mengatasi belajar siswa SLTPN I Jombang terlihat pada proses konseling yang dilakukan terhadap siswa yang bermasalah dalam belajar, pemberian penguatan dan terjalinnya komunikasi yang efektif dengan orang tua siswa.
5.2 Saran-saran
Dari hasil analisis di atas, penulis berusaha menyampaikan saran-saran sebagai berikut :
1. Siswa hendaknya lebih terbuka terhadap guru, khususnya pada guru BK sehingga proses konseling lebih mudah mampu membantu siswa dalam mengatasi setiap permasalahan yang dialami oleh siswa tersebut
2. Kepada guru, hendaknya agar lebih demokratis dalam pelaksanan kegiatan belajar mengajar, khususnya mata pelajaran BK sehingga tercipta komunikasi yang efektif antara guru BK dengan siswanya
3. Sekolah hendaknya lebih memperhatikan aspek kebutuhan siswa terutama tersedianya sarana dan prasarana yang memadai untuk menunjang prestasi belajar siswa.
Thank you for visited me, Have a question ? Contact on : youremail@gmail.com.
Please leave your comment below. Thank you and hope you enjoyed...
Please leave your comment below. Thank you and hope you enjoyed...
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Daftar Isi
Popular Posts
-
Dalam konteks pembangunan modern saat ini, terutama di negara-negara yang sedang berkembang, kependudukan dan pedesaan merupakan dua topik ...
-
Lingkungan merupakan salah satu faktor yang ikut serta menentukan corak pendidikan Islam, yang tidak sedikit pengaruhnya terhadap anak didik...
-
Perkawinan merupakan suatu ikatan yang mempersatukan dua insan yang berlainan jenis antara laki-laki dan perempuan serta menjadikannya hidup...
-
Dalam era globalisasi sekarang ini, tuntutan terhadap kualitas dan relevansi pendidikan semakin tinggi. Hal ini karena kebutuhan terhadap ...
-
Pendekatan peadagogis dan psikologis ini menuntut kepada kita untuk berpandangan bahwa manusia didik adalah makhluk Tuhan yang berada dalam ...
0 komentar:
Posting Komentar